Agatha Christie




Telah banyak tulisan mengenai Agatha Christie.
Namun seberapa banyak yang mengulas tentang 'isi perut' novel novel Agatha ?. Saya pikir sedikit. Hanya penikmat novel sejati yang hafal bagaimana cara bertutur sang maestro. Seperti yang dikatakannya sendiri, ia memelopori cara baru bagaimana seharusnya seorang detektif bekerja. Cara yang dimaksud adalah seorang detektif hanya perlu merenung, menggunakan 'sel sel kelabu' otaknya untuk memecahkan sebuah kasus. Tentu saja mengumpulkan bukti bukti tetap penting. Tetapi ritual ini dapat dilakukan oleh para ' asisten' semisal kapten Hastings dan Adriane Oliver.

Anda berhak mengatakan 'kuno' pada cerita detektif Agatha. Kita hidup di era 'CSI' dimana petugas koroner berseliweran mengendus bukti bukti sekecil DNA untuk kemudian mengujinya di laboratorium. Tapi siapapun akan mengakui bahwa Agatha adalah 'ratu' dalam hal menjalin cerita dan menjebak pembaca sehingga tak seorangpun tahu kemanakah ending cerita akan dibawa. Teknologi jadi kurang bermakna bila dihadapkan pada orijinalitas ide.

Kata 'kuno' kedua mungkin disoal pada cara bertutur. Mereka penggila jagat hiburan barangkali banyak dimanjakan skenario ala Hollywood. Cepat, efisien, full action, suspens, dan heroik dengan bumbu seks yang aduhai. Gaya bertutur Agatha cenderung mengalir lambat, santun, dan tentu saja ruwet. Para pembacanya akan mulai mengalami ketegangan hanya pada 10% akhir novel. Tapi ingat, 10% bagian akhir inilah yang menyebabkan jutaan orang menjadi fans setia sang ratu.

Lalu apa yang membedakan novel Agatha dengan penulis lainnya. Yang utama tentu saja selalu terjadi pembunuhan. Sekurang kurangnya terdapat satu kali pembunuhan. Lebih sering terjadi lebih dari dua kali pembunuhan. Bagaimana tokoh tokoh fiksi Agatha menyelesaikan kasus kasus pembunuhan ? Sebenarnya hanya ada empat kata kunci untuk menguak sebuah kasus : motif, analisa psikologis, metoda pembunuhan, dan pemecahan masalah.

Hal pertama yang dilakukan oleh M. Poirot maupun Jane Marple adalah penelusuran motif si pembunuh. Motif pembunuhan biasanya hanya berkutat pada rebutan harta dan warisan, asmara dan dendam, dan sangat jarang motif kekuasaan. Bisa terjadi kombinasi dua atau tiga motif sekaligus. Seringkali dengan mengurai motif pembunuhan, sebuah kasus akan cepat menemukan titik terang. Motif asmara sangat dominan pada ' The Hollow', sedangkan pada 'ABC murder' motif warisan sangat kuat. Motif kekuasaan terlihat pada novel politik ' Passanger to Frankfurt '.

Analisa psikologis turut menghiasi jalannya cerita Agatha. Agatha sendiri bukan psikolog atau psikiater. Namun psikologi tokoh tokoh yang terlibat dalam suatu kasus akan menjadi kunci untuk mengenali si pembunuh. Analisa psikologis dengan cepat dapat mengenali pembunuh yang menyamar jadi polisi dalam ' labours of hercules'. Tak pelak lagi novel terakhir 'curtain' menjadi ajang pertempuran psikologis paling keras antara M. Poirot dengan lawan terakhirnya.

Metoda pembunuhan yang nyaris menjadi trademark Agatha adalah peracunan. Novel perdana Agatha ' mysteri at styles' meneguhkan hal ini. Selama perang dunia pertama Agatha pernah jadi sukarelawan perawat. Barangkali pengetahuan tentang berbagai jenis racun dan obat diperoleh selama masa itu.  Jenis jenis racun yang sering digunakan adalah sianida, arsenik, strythnine, morphine, dan belladona. Metoda pembunuhan lainnya adalah dengan cara pencekikan, penikaman, penembakan dengan pistol, dan ditenggelamkan.

Pemecahan masalah selalu ditangani oleh tokoh utama semisal Hercule Poirot. Pemecahan masalah biasanya selalu dimulai dengan wawancara tokoh tokoh yang terlibat dan mengumpulkan bukti. Apabila sudah dirasa cukup, keping demi keping peristiwa kemudian disusun dalam susunan kejadian paling logis dan tidak dapat dibantah kebenarannya. Tidak pernah ada penjahat yang mampu mematahkan penjelasan sang Detektif. Bagian ini biasanya diletakkan di akhir cerita dan menjadi yang paling dinanti para Agathamania.

Hal lainnya yang menarik untuk dicermati adalah profesi si pembunuh. Agaknya profesi dokter, perawat, apoteker, pekerja laboratorium, dan profesi yang berkaitan dengan medis menjadi tokoh favorit sebagai pembunuh. Dokter pembunuh tersebar dalam novel 'Card on the table', ' Sleeping Murder', 'The Murder of Roger Ackyord',dan 'Postern of faith'. Dalam 'Dumb Witness' istri dokter yang menjadi pembunuh. Dalam 'The Hollow' dokter malah menjadi korban pembunuhan. Profesi pembunuh lainnya adalah polisi, artis, pengusaha, sekretaris, istri/suami yang cemburu, hingga preman/pengangguran/orang orang bangkrut. Yang menarik adalah ada juga orang yang terlahir jadi pembunuh seperti dalam novel 'Endless Night' dan 'Why didn't they ask Evan'.

Semuanya serba mungkin dalam dunia Agatha Christie.



3 komentar:

Anonim mengatakan...

Quote : "Para pembacanya akan mulai mengalami ketegangan hanya pada 10% akhir novel. Tapi ingat, 10% bagian akhir inilah yang menyebabkan jutaan orang menjadi fans setia sang ratu."

Sebagian besar memang begitu. Tapi ada satu pengecualian buat saya. The Big Four. Ini satu2nya karya Agatha yang suspens banget. (menurut saya)

-B-

Esa Nugraha Putra mengatakan...

eh,ya mas ( atau mbak ). Waktu saya baca The Big Four, tiba tiba saja wajah Poirot berujah jadi James Bond....ha...ha...ha...

Anonim mengatakan...

Setuju, The Big Four paling keren :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Banyak Dibaca