Eiji Yoshikawa, Taiko (3).

Jika buku Musashi bercerita tentang samurai yang memilih jalan sepi, maka Taiko bercerita tentang para lelaki dengan cita cita besar menguasai dan mempersatukan Jepang. Para Lelaki itu adalah Nobunaga, Hideyoshi, dan Ieyasu.

Mereka lahir sebagai anak anak sejarah seiring ambruknya keshogunan Ashikaga, sekitar pertengahan abad 16. Dengan karakter masing masing yang berbeda, mereka tampil sebagai pemimpin Jepang yang besar dan disegani. Tapi bagaimanapun, tidak boleh ada matahari kembar ( apalagi kembar tiga ) dalam satu negara. Pada titik tertentu mereka saling berhadapan.....

Inilah puncak pertarungan itu :

Pada bulan kesepuluh tahun Tensho keempat Belas, Hideyoshi dan Ieyasu bertemu di Benteng Osaka untuk perundingan damai yang bersejarah. Tak terkalahkan di medan perang, Ieyasu menyerahkan kemenangan politik kepada Hideyoshi. Dua tahun sebelumnya, Ieyasu mengirim putranya sebagai sandera ke Benteng Osaka, dan kini ia mengambil saudara perempuan Hideyoshi sebagai istri. Ieyasu yang penyabar akan menunggu kesempatan lain. Barangkali sang burung masih akan berkicau untuknya ( hal.1141).

Memang lucunya kemenangan tidak selalu diraih dengan perang. Ada saatnya orang lelah dengan peperangan dan beralih ke meja perundingan dan diplomasi. Mengenai ungkapan burung yang berkicau di akhir kutipan diatas, anak anak sekolah Jepang hafal betul sebuah sajak sebagai berikut :

Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau ?
Nobunaga menjawab, " Bunuh saja!"
Hideyoshi menjawab, " Buat burung itu ingin berkicau,"
Ieyasu, " Tunggu."

Jika Musashi merupakan arus kecil dalam sejarah, maka Taiko merupakan arus besar sejarah itu sendiri. Dimulai dengan masa kanak kanak Hideyoshi - tokoh utama buku ini, novel ini mendokumentasikan bagaimana seorang yang bukan siapa siapa menjadi orang besar yang menentukan arah sebuah bangsa. 

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Banyak Dibaca