Karl May, Winnetou, 1893.

Agak terkejut juga melihat tahun novel ini diterbitkan, 1893. Novel Sitti Nurbaya diterbitkan 1922. Ada selisih 29 tahun, bukan waktu yang sebentar. Menurut catatan Pramoedya Ananta Toer, tahun tahun itu Belanda sudah berhasil menjinakkan Syarikat Dagang Islam - pergerakan modern pertama - plus Medan Priyayi-nya. Tahun 1869 Ulysses Grant menjadi Presiden Amerika ke 18. Sekitar tahun itulah Karl May memulai kisah mengenai Winnetou ini. Di saat Amerika baru saja mengakhiri perang saudaranya. Adalah seorang greenhorn (pemula, junior, pelonco) yang kemudian dikenal dengan Old Shatterhand yang baru saja tiba dari Jerman.  Sorang yang digambarkan tinggi besar, khas Jerman. Jujur, ksatria, rendah hati, dan polos kadang naif. Terampil menjinakkan kuda liar, menembak, dan menaklukan beruang besar. Pekerjaan menantang pertamanya adalah menjadi surveyor tanah untuk keperluan jalan kereta api. Di sana ia bergabung dengan para westman, senior yang telah malang melintang di wild wild west. Dan benih benih konflik mulai timbul ketika jalur kereta tersebut melintas di atas tanah suku Apache. Konflik tak terhindarkan. Orang orang kulit pucat dengan gampang men-dor kepala suku Apache yang mencoba merintangi kerja mereka. Anak kepala suku Apache menggantikan bapaknya, dialah Winnetou.


Didorong oleh nuraninya, Old Shatterhand alias Charley, alias Karl May, malah bersahabat dekat dengan Winnetou. Dimulailah petualangan di dunia barat yang ganas tiada ampun.

Apapun yang berbau Amerika kala itu, bisa anda temukan di sini. Kehidupan para cowboy yang jarang mandi dan menyantap daging bison. Pergi ke bar dan minum minum. Adu jotos karena mabuk, kadang diakhiri dengan duel pistol. Perampokan kereta api yang memuat emas. Bertempur dengan Indian suku Sioux. Membantu Sherif menangkap penjahat. Berhadapan dengan kelompok Ku Klux Klan. Namun bagusnya (atau kurangnya?) Charley tidak digambarkan senang bermain main dengan cewek cewek seperti sering diadegkan dalam film film koboy Hollywood. Atau mungkinkah moralitas saat itu masih bagus bagusnya dibanding sekarang?

Tak heran buku ini mendapatkan apresiasi yang layak dari angkatan NKRI terdahulu. Emil Salim misalnya bercerita tentang masa kecilnya yang kerap dibacakan gurunya cerita Winnetou ini di depan kelas. Sehingga sebagai anak anak, kemudian meniru Old Shatterhand dengan pergi ke hutan berbekal daging yang siap di panggang. Namun mentornya, pak Harto, lebih senang cerita Koo Ping Hoo.

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Banyak Dibaca