11 Hari Usus Buntu (49)

Bab VIII
Dukun Bertindak

     Selasa hari ke 8. Aku benar benar bosan ditempat tidur. Rupanya para malaikat/perawat laki laki dan perempuan juga mulai mengkritikku. Mereka menyarankan aku untuk ‘belajar’ duduk, tidur miring ke kiri, miring ke kanan. Tapi tuhan berbaju putih sedang bersenang hati hari ini.
     Dia menginstruksikan agar belalai di hidungku  dicabut. Para malaikat mengamini. Tak lama kemudian mantri Elang datang untuk mengeksekusi belalaiku. Rupanya para malaikat telah bersekongkol menipuku. Kupikir belalai ini hanya sepanjang antara botol penampung dan lubang hidungku. Ternyata keliru.
     Aku pejamkan mataku ketika mantri Elang mulai melucuti plester yang mengikat selang di hidungku.  Ibu mertua mengintip dari balik tirai. Sesenti dua senti, selang belum juga putus dari hidungku. Mantri terus menarik selang dari hidungku. Dua puluh senti selang sudah keluar dari hidungku, namun belum berhenti. Mantri Elang belum juga berhenti menarik selang. Barulah setelah sekitar enam puluh senti selang sudah benar benar keluar dari hidungku.
     Jadi selama ini selang ternyata tembus sampai lambung, dan mereka tak pernah cerita. Betul betul kriminal mereka itu. Pantas ketika kerongkongan kadang kadang menelan ludah, aku serasa dicekik tali. Selang itu. Benar benar sialan !
                                    *****
     Rupanya rumor aku kena voodoo belum juga reda. Apakah hari selasa merupakan hari baik bagi para dukun, yang jelas hari ini aku dikunjungi tidak hanya satu, tapi dua dukun sekaligus. Entah siapa yang mengutus mereka. Mungkin para simpatisan yang kasihan karena selama ini aku terlalu mengabaikan kemungkinan diserang secara halus oleh ‘musuh musuhku’.
     Dukun pertama datang setelah ashar. Jika anda terlanjur menggambarkan dukun sebagai orang orang berpakaian hitam hitam, cincin batu besar besar menghiasi jemarinya, dan rambut panjang diikat dengan ikat kepala tradisonal, salah. Dukun yang ini datang dengan Daihatsu Xenia, berkopiah haji putih, baju koko putih, dan sarung putih pula. Wajahnya bersih, jauh dari kesan kumal dan meyeramkan. Bersih benar, tanpa kumis.
     Sejenak dia berkonsentrasi menatap aura wajahku. Kemudian minta disediakan segelas air. Kali ini dia megucapkan jampi jampi, kemudian meniupkannya ke gelas. Dia minta aku duduk. Kemudian menyibakkan baju di bagian punggungku. Dia mulai menuliskan sesuatu di punggungku dengan air dari gelas jampi jampi tadi. Entah tulisan apa.
     Setelah selesai, dia minta aku meminum sedikit air jampi tadi. Aku menurut saja. Nampaknya ritual telah selesai.
     “ Mulai sekarang bapak harus hati hati, terutama dengan teman teman kantor bapak. “ katanya mulai membuka percakapan.
     “ Memang kenapa ? “ tanyaku asal saja. Teori konspirasi model begini telah sering aku dengar. Begitu teori ini muncul lagi aku tidak terlalu terkejut.
     “ Banyak yang iri, sirik, kepada bapak. Tapi tenang saja. Kiriman mereka sudah saya halau tadi. Dan di masa depan, mereka tak kan berani datang lagi. Tapi kalau ada apa apa, hubungi lagi saja saya.” Jawaban standar, seharusnya mereka lebih kreatif dalam memberikan jawaban.
     “ Yaaaah, jaman sekarang ya ? orang berlomba lomba mencapai puncak ! “ ibu mertua nimbrung. Yang lain ikut berceloteh tentang betapa kerasnya ‘persaingan’. Ruangan menjadi sedikit agak riuh.
     “ Tepatnya, apa yang terjadi ? “ kejarku kepalang basah.
     Dia mengedip ngedipkan mata, mungkin sedang mencerna apa yang menjadi pertanyaanku. Kemudian mengangguk anggukan kepala.
     “ Menurut saya, dukun yang menyantet anda menggunakan boneka yang berisi bagian tubuh anda, kemungkinan rambut anda. Dia menusuk boneka itu di bagian perut anda. Masih untung mereka tidak mengirim benda benda…. “
     “ Benda benda ? “
     “ Semacam paku, silet, dan benda benda tajam yang menyakiti tubuh. Tiba tiba saja benda benda itu bersarang di dalam tubuh kita. “
     “ Kenapa mereka tidak mengirim HP, i-pad, atau BB misalnya ? “
     “ Mungkin karena harganya lebih mahal dari ongkos dukunnya. “ mimiknya masih serius.
      Dia mengeluarkan sebuah kartu nama cukup bagus. Lengkap dengan nomor HP yang bisa dihubungi dan alamat praktik.  Aku meyerahkannya kepada Ninok, dia telah bersiap dengan amplop putih.

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Banyak Dibaca