Michael Crichton: Congo, 1980

Pada dasarnya ekspedisi ekspedisi orang kulit putih bermotif kapital. Bajunya memang bertajuk penelitian ilmiah, namun tubuh sebenarnya adalah kapitalis sejati. Para pionir orang Spanyol dan Portugis berlayar hingga Maluku mencari rempah rempah yang dimonopoli para pedagang Arab. Setelah sampai di negeri tujuan, mereka tergiur untuk merampas apa saja yang ada. Watak itu belum banyak berubah hingga kini. Barangkali caranya lebih 'sopan' karena di saat yang bersamaan mereka mengusung azimat Hak Azasi Manusia. Namun semangatnya tetap sama, menguasai dan mengangkut semua yang bisa dibawa.

Sesungguhnya hanya ada satu alasan mengapa Afrika memperoleh sebutan Benua Hitam, yaitu hutan tropis luas di daerah khatulistiwa di kawasan tengahnya. Inilah cekungan Sungai Kongo, yang meliputi sepersepuluh luas seluruh benua - 2,25 juta kilometer persegi rimba belantara yang hening, lembap, dan gelap, hampir setengah luas daratan Amerika Serikat. Hutan raya ini telah lebih dari 60 juta tahun berada di muka bumi, tanpa mengalami perubahan maupun gangguan. Sampai sekarang pun hanya ada setengah juta orang bermukim di Cekungan Kongo, dan hampir semuanya hidup di desa-desa di tepi sungai lebar dan berlumpur itu, yang mengalir pelan membelah hutan. Sebagian besar rimba belantara tersebut tetap merupakan hutan perawan, dan sampai hari ini pun masih ada ribuan kilometer persegi yang belum pernah dijelajahi. Ini terutama berlaku bagi kawasan timur laut Cekungan Kongo, tempat hutan belantara bertemu barisan gunung berapi Virunga, di tepi Great Rift Valley. Akibat tiadanya jalur perdagangan maupun daya tarik khusus, sampai hampir seratus tahun lalu Virunga belum pernah terlihat oleh mata orang Barat.

Kongo kemudian berubah nama menjadi Zaire. Zaire merupakan negara terkaya di Afrika Hitam dalam hal mineral. Sebagai penghasil kobalt dan intan kualitas industri, Zaire menduduki peringkat pertama dunia; sebagai penghasil tembaga, Zaire menempati urutan ketujuh. Selain itu masih terdapat cadangan emas, timah,seng, tungsten, dan uranium. Tapi sebagian besar cadangan bahan galian tersebut berada di Shaba dan Kasai, bukan di Virunga.

Earth Resources Technology Services, Inc (ERTS) bermarkas di Houston, diminta untuk melakukan ekspedisi di Kongo. Karen Ross, pada usia 24 tahun telah menjadi pakar matematika dan informatika di ERTS. Selain jenius, dia juga cantik. Tugasnya di Houston adalah memantau tim lapangan di Kongo yang dipimpin penjelajah berpengalaman, Jan Kruger. Pada suatu pagi karen mendapati monitor di mejanya menunjukkan perkemahan tim Kongo telah porak poranda. Semua anggota tim tewas dengan tulang kepala pecah. Selintas wajah gorilla tertangkap kamera. Tim baru harus segera berangkat. Mengingat kompetitor mereka, orang Jepang dan Eropa akan segera mendekat.

Setelah debat debat panjang, akhirnya ERTS sepakat menerjunkan Karen Ross. Timnya termasuk ahli primata Peter Elliot, dan Amy, gorila yang dilatih Peter. Berdasar photo satelit yang sempat dikirim tim terdahulu, mereka menemukan mitos yang mungkin benar benar ada. Photo samar samar reruntuhan kota yang hilang. Menurut legenda, sebuah kota yang dikenal bangsa Yahudi pada masa Raja Solomon merupakan sumber kekayaan intan yang luar biasa. Rahasia jalur perdagangan ke kota itu dijaga ketat dan diteruskan dari ayah ke anak selama bergenerasi-generasi. Tapi tambang-tambang intan tersebut telah terkuras habis dan kota itu kini tinggal reruntuhan di pedalaman Afrika. Jalur perdagangan yang penuh bahaya sudah lama ditelan oleh hutan, dan pedagang terakhir yang mengingatnya membawa rahasia itu ke kubur, beratus-ratus tahun silam.

Tempat misterius dan memukau ini dinamakan “Kota Hilang Zinj” oleh orang-orang Arab. Namun, meski kemasyhurannya tak lekang dimakan waktu, tidak ditemukan informasi mendetail mengenai kota itu. Tahun 1187, Ibn Baratu, orang Arab yang tinggal di Mombasa, mencatat bahwa “kaum pribumi setempat bercerita tentang kota hilang bernama Zinj di pedalaman. Bangsa hitam yang menghuni kota itu pernah hidup makmur dan mewah, dan para budak pun menghiasi diri dengan permata, terutama intan biru, sebab intan terdapat dalam jumlah besar di sana.”

Sebenarnya ekspedisi kali ini bukan perjalanan mudah. Pesawat mereka ditembaki angkatan udara Zaire. Mereka terjebak dalam perang saudara. Ada suku Kigani yang kanibal. Sementara kompetitor mereka, konsorsium Jepang - Eropa sudah terlebih dahulu berangkat. Untunglah ekspedisi sekarang dipimpin Kapten Munro. Terbaik di bidangnya. Tentu dengan bayaran teramat mahal.

Setelah berhari hari melaui hutan tropis dengan pohon pohon raksasa, sungai yang menggelegak, ngarai, suku pygmy (mungkin benar mereka keturunan monyet?), padang rumput, lumut; Crichton mendiskripsikannya dengan sangat baik; hanya untuk menemui fakta bahwa tim konsorsium telah mendahului mereka menemukan kota yang hilang. Semangat mereka terbang entah kemana. Namun di titik tujuan, mereka menemukan tim konsorsium tewas semuanya dengan memar memar yang aneh. Mereka kini telah menemukan kota Zinj yang hilang itu. Ornamen ornamen di reruntuhan menunjukan peradaban maju, termasuk penambangan intan. Namun marabahaya tengah mengancam mereka.....

Michael Crichton memang dikenal sebagai penulis science fiction. Anda bisa menambahkannya sebagai penulis teori konspirasi juga. Nampaknya ia berhasil menggali dokumen dokumen rahasia entah dari mana sumbernya. Dipadu dengan wawasan dan risetnya terhadap teknologi mutakhir, menjadikan novel novelnya mencengangkan dan sering kontroversial. Narasi di bawah memberikan gambaran kenapa ia menulis novel ini:


BULAN JANUARI 1979, ketika memberi kesaksian di hadapan Senate Armed Services Subcommitteel, Jenderal. Franklin F. Martin darl Pentagon Advanced Research Project Agency menyatakan, “Tahun 1939, pada awal Perang Dunia II, negara terpenting di dunia bagi upaya militer Amerika adalah Kongo Belgia.” Martin menjelaskan bahwa Kongo, kini Zaire, selama empat puluh tahun berpengaruh sangat besar terhadap kepentingan-kepentingan Amerika - dan di masa mendatang akan menjadi lebih menentukan lagi. (Tanpa tedeng aling-aling Martin mengakui bahwa “Amerika lebih rela berperang karena Zaire daripada karena negara Arab penghasil minyak mana pun.”)

Dalam Perang Dunia II, Kongo tiga kali mengirim uranium secara rahasia ke Amerika Serikat, yang lalu digunakan untuk membuat bom-bom atom yang meledak di atas Jepang Sejak tahun 1960 Amerika Serikat tidak lagi membutuhkan uranium, namun tembaga dan kobalt menjadi bernilai strategis. Pada tahun 1970-an Amerika Serikat mulai melirik cadangan tantalum, wolfram, dan germanium di Zaire - tiga unsur kimia yang sangat penting bagi industri elektronik semikonduktor. Di tahun 1980-an, “intan biru Tipe 11b akan merupakan sumber daya militer terpenting di dunia” - dan Zaire diyakini mempunyai cadangan intan jenis tersebut. Dalam pandangan Jenderal Martin, intan biru memegang peranan kunci karena “kita memasuki zaman ketika daya penghancur suatu senjata kalah penting dibandingkan kecepatan dan kecerdasannya.”


Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Banyak Dibaca