11 Hari Usus Buntu (8)
Tidurku terusik eongan kucing yang sedang mengais sampah
di koridor servis sebelah kamarku. Rupanya masalah kucing ini belum selesai
juga walau sudah lama jadi pergunjingan para pasien yang pernah menjalani rawat
inap di RS Bunut.
Dan kucing kucing itu masih tetap hadir di sudut sudut
rumah sakit. Aku pernah melihatnya melintas di ruang IGD. Ngeri membayangkan
sang kucing menjelajah sampai instalasi gizi.
Kulirik jam dinding. Pukul 2 dinihari. Cairan infus baru
habis setengahnya. Biarkan para perawat itu tidur barang sekejap lagi. Para
pengantarku mendengkur saling bersahutan.
Seekor kucing lagi datang dengan eongan yang lebih berat ketempat
yang sama. Kubayangkan pertengkaran, saling mengintimidasi, saling menggeram,
dan diakhiri saling cakar. Malah hening yang agak panjang. Mereka agaknya jenis
kucing akur dan rela berbagi makanan. Suara garukan bareng pada sisa sisa makanan
menguatkan dugaanku mereka memang jenis
mahluk cinta damai.
“ Jadi, bos, siapa penghuni baru di kamar 6 ini? ” suara pertama membuka percakapan.
“ Oh, Orang tolol lainnya yang doyan makan enak ” suara kedua
menjawab sinis.
Aku agak
sedikit kaget. Malam malam begini siapa yang berkeliaran di koridor servis
sambil menggunjingkan pasien pasien rumah sakit. OB? Ngak mungkin mereka
bertugas selarut ini. Perawat? Mulut mereka terkunci kalau urusannya kondisi
pasien. Orang yang besuk? Koridor itu terlalu gelap untuk dijadikan tempat hang out.
“ Usianya 42 tahun” ujar yang disebut bos. “ Kondisinya
payah. Dia akan segera di operasi. ”
Aku
ketakutan. Pasti salah dengar. Itu bukan suara manusia. Bukan suara laki laki,
bukan perempuan, bukan pula suara bencong. Lebih mirip suara Sponge Bob yang
ditonton anak sulungku sebelum berangkat sekolah. Kalau bukan jurig*), pasti kucing kucing itu yang
sedang mengobrol. Atau jurig yang bersalin rupa jadi Kucing! Dari ranjang yang
menyiksa ini aku mencoba memaling malingkan kepala ke arah para penjagaku yang
mendengkur. Aku berusaha memanggil manggil. Tapi mulutku kelu. Kemungkinan
jurig yang menjelma menjadi kucing membuatku takut setengah mati. Aku terserang
panik. Kucoba memukul mukulkan tangan ke pagar ranjang. Tolong. TOLONG !
TOOLOOOOONG!
Tak ada jawaban. Hanya suara AC yang terus mendengung.
Orang orang berhenti mendengkur. Sedikit menggeliat, tapi tidur lagi.
Mendengkur lagi. Sejenak aku berniat meraih bel suster. Tapi apa yang hendak
kukatakan nanti? Jangan jangan mereka memasukan kata ‘ pasien mengalami
halusinasi’ pada catatan medis. Jadi selain dokter bedah dan penyakit dalam,
mereka mungkin saja menambahkan dokter spesialis penyakit jiwa dalam daftar
visite. Keringat dingin mulai menetes di dahiku.
Tuhan! Dalam
keadaan begini ada baiknya menyebut namaNya. Dadaku satu satu menyebut namaNya
yang terlintas di kepala.
Satu menit, dua menit berlalu. Desir angin berhenti
berhembus, seakan memberiku ruang untuk sedikit tenang. Suasana psikologisku
mulai mengendur. Rupanya sedikit mengingat Tuhan memberikan efek bagus. Akan ku ingat itu. Aku
tertidur lagi.