11 Hari Usus Buntu (40)

     Diam diam Seruni mensyukuri hubungan dengan ibunya yang relatif ‘aman’. Pengalaman menjadi volunteer sedikit banyak memberikan gambaran susahnya berhubungan dengan para orang tua. Pikirannya melayang ke bilik praktik tahun tahun ke belakang.      Di hadapannya adalah mantan kepala Sekolah dasar. 65 tahun. Depresi. Pemarah. Penggerutu. Sudah satu jam ini dia memuntahkan kekesalannya. Seruni bertahan mendengarkan, ia sudah terbiasa dengan pasien jenis ini. Istri yang mengantarnya lebih memilih menunggu di ruang tunggu.
     Anak lima. Tak satupun yang berbakti. Kacang lupa kulitnya. Tak tahu berterima kasih. Nafasnya tersengal sengal. Tangannya menunjuk nunjuk. Badannya menegang. Mukanya memerah. Kelelahan akhirnya mengalahkannya, tubuhnya rebah ke sofa. Sepuluh menit dalam damai.
     Kalau sudah begini, diam adalah yang terbaik yang bisa dilakukan. Tempat konsul berarti juga keranjang sampah tempat memuntahkan segala kekesalan dan beban hidup. Dan akhirnya,
      “ Saya permisi “ katanya tegas sambil berdiri. “ Selamat siang, terima kasih. “
     Seruni juga beranjak hendak membukakan pintu. Namun si tua sudah lebih dulu menjangkau pegangan pintu. Sekilas sang istri terlihat. Wajahnya harap harap cemas.  Seruni melihat pasangan itu berlalu.  
     “ Seruni ? “ Seruni tersadar dari lamunannya, “ Ya, bu ? “
      “ Tidakkah kamu merasa bosan, Seruni. Kamu masih muda, teman teman sebayamu mungkin sedang bermain main di luar sana. Kamu berhak menikmati usia mudamu. Meninggalkan ibu sekali kali tidak perlu kamu cemaskan. “
      “ Aku suka tinggal di sini. “
     “ Tidak pernah merasa bosan ? “
     “ No “ kata Seruni sambil menggelengkan kepala. Bibirnya kini menggepit pensil.
     “ Teman pria ? “
     “ mungkin nanti… “
     Mengurai apa yang dipikir seorang gadis bisa jadi rumit, tapi sebenarnya juga tak terlalu sulit. ‘Pasien pasien’ pertama Seruni adalah para gadis yang dirujuk Kantor Urusan Agama dalam proses cerai. Dan percaya atau tidak, mereka memilih untuk bercerai karena pasangan mereka tidak memenuhi harapan untuk memuaskan obsesi obsesi mereka.
     “ Jadi kamu bercerai karena suamimu tak bisa memenuhi keinginanmu ? “
     Ia ragu sejenak, “ Ya “.
     “ Apa yang kamu inginkan ? “
     “ Seperti yang wanita inginkan, sepatu, tas, baju, asesoris, HP baru. “
     “ Dan suamimu tak memberikan itu ? “
     “ Ya. Dia pelit.  “
     “ Seorang yang lain bisa memberikan itu ? “
Matanya melirik ke kiri ke kanan. 
     “ Dia kaya, dan royal “ katanya berbisik.
     Laila mengambil remote dan memindahkan channel TV. Channel favoritnya adalah NHK. Mungkin ini satu satunya saluran yang menayangkan orang orang yang mencintai pekerjaanya seumur hidup.
     “ Apakah ibu terlalu mendesakmu ? “ katanya lembut.
     “ Tidak. Aku masih sadar dengan pilihan pilihan dalam hidupku. Memilih tinggal denganmu adalah pilihan sadar yang kutempuh. Para malaikat mendukung dan melindungiku…”
     “ Kamu menggunakan kata malaikat seolah itu terjadi padamu, nak? “
     Seruni  menghampiri ibu dan menggenggam tangannya.
     “ Aku harus jujur pada ibu. Telah kulakukan dosa besar terhadapmu…. “
     “ Aku mendengarkan “
     “ Masih ingat empat temanku yang terbaring di ICU ? “
     “ Ya…. “
     “ Seharusnya lima orang…. “
     “ Maksudmu ? “
     “ Harusnya aku juga terbaring disana juga. Aku satu dari empat orang penerima bea siswa dari kota ini. “
Laila tertegun.
     “ Apa yang terjadi, nak ? “
     “ Aku sengaja tak memberitahumu tentang email yang mengabari pemberian bea siswa Harvard itu untukku. Aku lulus ujian, bu. Aku diterima. Ketika kami dinyatakan diterima, kami berlima punya rencana. Hari hari indah rasanya terbentang di hadapan kami. Kami berkumpul di rumah salah satu teman untuk merayakannya. Waktu itu aku pulang dari rumah temanku itu dengan hati berbunga bunga. Aku ingin segera memberitahumu, ibu. Namun akhirnya tak sampai hati. Aku tak berani pulang ke rumah. Aku terduduk di bangku sebuah taman. Anak anak sedang bermain….
It is the evening of the day,
I see and watch the children play
Similing faces I can see,
But not for me,
I see and watch as tears go by*)

   

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Banyak Dibaca