11 Hari Usus Buntu (41)

       Seorang anak perempuan melintas di depanku. Wajahnya bagai malaikat. Langkahnya melompat lompat. Tas gendong di punggungnya bergoyang goyang mengikuti gerakan tubuh mungilnya. Sebuah buku terjatuh…. Aku memanggil manggil anak itu. Namun dia terus berlari dan menjauh. Akhirnya kupunggut buku itu. Kubuka halaman demi halamannya sampai halaman ini…

Seorang lelaki datang menemui Nabi. Ia berkata, “ aku ingin berbaiat kepadamu untuk berhijrah dan berjihad. Aku mengharapkan pahala dari Allah. “
Nabi bertanya kepadanya, “ Apakah salah seorang diantara kedua orang tuamu masih hidup? “
Lelaki itu menjawab, “ Bahkan keduanya masih hidup. “
Nabi bertanya lagi, “ Dan kamu ingin mendapat pahala dari Allah ? “
Ia menjawab, “ Benar. “
Nabi bersabda, “ kembalilah kamu kepada orang tuamu dan berkhidmatlah pada mereka sebaik baiknya. “ **)

     Tak terasa air mataku menetes. Aku beranggapan Tuhan telah menyampaikan pesannya kepadaku. Aku tak jadi mengambil bea siswa itu. “
     “ How kind you are, but ….  kamu tak perlu lakukan itu. Bila kamu ingin pergi, pergilah. Ibu bisa merawat diri sendiri disini, atau ditemani seorang perawat…. “
     Seruni tak menjawab. Meninggalkan seorang ibu yang kesepian atau bahkan mengirimnya ke panti jompo mulai menjadi kebiasan dan gaya hidup manusia modern. Suatu hari ia pernah menemukan situasi ini di ruang konsulnya. Ia pasien gelisah akut. Segala prosedur standar telah ia terapkan untuk menenangkannya. Tak berhasil. Ia nyaris akan merujuknya ke psikiater. Pria itu menolak. Aku belum gila, bentaknya. Akhirnya ditengah keputus asaan Seruni mengajukan pertanyaan,
     “ Baiklah, bapak masih punya orang tua? “ tanya seruni perlahan namun juga tegas.
     Melamun sejenak. “ Ada, ibu. Bapak sudah meninggal. “ katanya bersungut sungut. Seruni menunggu Lanjutan. Tidak ada.
     “ Maafkan saya. Ungkapan lama menyebutkan surga dibawah telapak kaki ibu. Saya termasuk orang yang skeptis terhadap keberadaan surga. Tapi rasanya yakin dengan surga yang bisa kita dapatkan dari seorang ibu.... “
     “ Anda tidak sedang berbicara takhayul, bukan ? “
     Seruni menenangkan diri.  “ Tanpa bermaksud menceramahi anda, kita sama sama tahu apa artinya sembilan bulan mengandung bagi seorang ibu. Berpayah payah. Membela sang janin. Melahirkan, sakit. Sakit bukan alang kepalang. Masyarakat kita yang beradab saja masih mencemooh orang yang menerima sesuatu tanpa mengucapkan terima kasih. Kita menyebutnya orang tak tahu berterima kasih. Bagaimana kita harus mengucapkan terima kasih kepada ibu kita? Saya berpikir, pantas saja Tuhan memberikan surganya di telapak kaki para ibu. Mereka pantas menerimanya. Nah, kalau saya jadi anda, saya akan segera pulang dan mencari dimana ibu berada. Dalam sisa hidup beliau, saya akan mengucapkan terima kasih, mengingat jasa jasa dan perjuangannya membesarkan kita. Aku akan berusaha berusaha memuliakan dan membahagiakannya sebisa bisa. Bukan demi beliau. Demi hidup kita, demi surga yang kita damba dambakan. Saya tak melihat cara lain..“ 
     Wajahnya mengeras bagai karang. Lama ruang konsul itu hening. Tangannya dipilinkan di dada, tanda perlawanan. Bibir ia katupkan erat erat. Ia petarung di ruang ruang sidang, dan selamanya akan menjadi petarung. Ia tak kan pernah kalah. Tapi seperti bendungan, ada kalanya tanda tanda bobol semakin nyata kelihatan. Seruni beranjak meninggalkan kamar. Anak muda itu mulai sesegukan, lalu menangis sejadi jadinya.
     Dari balik pintu, Seruni mendengarkan. Dari catatan yang diterimanya, anak muda itu telah mengirim ibunya ke panti jompo 2 tahun yang lalu.
     Di muka bumi ini, dahulu kala bangsa Eskimo adalah bangsa dengan perilaku terburuk perihal sikap mereka terhadap orang tua yang tidak lagi produktif. Mereka akan memisahkan orang orang tua dari kehidupan mereka, menempatkan para renta ini di suatu tempat, sampai beruang kutub memangsa mereka. Makin banyak Eskimo diantara kita.

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Banyak Dibaca