Agatha Christie, Tragedi Tiga Babak (Three Act Tragedy, 1934)

Sir Charles Cartwright, artis drama ternama Inggris memasuki masa pensiun. Masih lajang, memilih Crow's Nest, sebagai rumah peristirahatan tepi pantai bergaya modern. Dari sana pemandangan pantai Loomouth sangat indah. Lengkap dengan para pelayan khas rumah tangga aristokrat Inggris. Sebagai seniman, dia gandrung jamuan makan malam eksotik. Kebiasaan mewah yang hanya bisa dinikmati lingkungan para sohib bangsawan. Malam itu jamuan dihadiri Mr. Satterhwhaite, dr. Sir Bartholomew Strange, Egg Lytton Gore yang datang bersama ibunya, Oliver Manders, Mr. dan Mrs. Babbington, Angela Sutcliffe, Anthony Astor, suami istri Dacres, dan terakhir... si kumis Hercule Poirot.

Namun acara makan malam menuai bencana. Mr. Babbington yang pendeta jatuh tersungkur setelah minum koktail. Mati. Racun nikotin terdeteksi dalam tubuhnya. Babak kedua tragedi terjadi di London, ketika lagi lagi dalam jamuan makan malam terjadi pembunuhan. Kali ini korban justru tuan rumah sendiri, dr.Strange. Hampir seluruh peserta jamuan di rumah Sir. Charles juga menjadi tamu pada jamuan di rumah dr. Strange. Kembali racun nikotin kembali menjadi sang pencabut nyawa. Mudah ditebak, salah seorang peserta pastilah menjadi pembunuhnya.

Eh, jatuh lagi korban. Kali ini salah seorang pasien sanotarium penyakit syaraf. Ini pasien yang terisolasi, yang jarang berhubungan dengan dunia luar. Lagi lagi mati karena racun nikotin, kali ini lewat hadiah kue coklat yang dia terima. Pembunuhan pertama, kedua, dan ketiga nyaris tak berhubungan. Seorang pendeta, seorang dokter, seorang pasien. Bagaimana menjelaskan semua ini? Memang butuh babak ketiga...

Resensi lebih lengkap, klik di sini.

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Banyak Dibaca