JK Rowling, Harry Potter : Tahun Pertama

Hari pertama sekolah merupakan pengalaman yang mencengangkan bagi sebagian besar anak. Walaupun pada umumnya para orang tua murid mengantarkan anak anaknya pada hari pertama tersebut, beragam tingkah polah anak selalu saja membuat kita tersenyum senyum.

Inilah hari pertama di sekolah sihir Hogwarts.

Bagi Ron Weasley, hari pertama di sekolah tidaklah terlalu istimewa. Ketiga kakaknya sudah terlebih dahulu bersekolah di Hogwarts. Ia cukup mengenal Hogwarts dari cerita cerita kakak kakaknya. Orang tuanya alumni Hogwarts. Ayahnya sekarang bekerja di Kementerian Sihir, tak jauh jauh dari urusan sekolah sihir. 

Bagi Hermione Granger, hari pertama diwarnai antusiasme yang meledak ledak. Sebagai keturunan yang tidak murni sihir - hanya salah satu dari kedua orangtuanya yang murni penyihir - keinginan untuk diakui sama baiknya dengan keturunan penyihir murni menjadikan motivasi belajar sihir menjadi berlipat lipat. 

Bagi Harry Potter, hmmm, hari hari pertama di Hogwarts di jalani dengan kecanggungan yang panjang. Semua orang mengenal kasus kontroversial yang meliputi kelahirannya. Sayangnya kemalangan yang menimpa anak yatim piatu tidak selalu berbuah simpati. Tak heran sekelompok murid mencemoohnya, bahkan beberapa profesor di Hogwarts kurang senang dengan kehadiran Harry.

Semuanya mulai berubah ketika Harry mulai debut pertamanya dalam pertandingan quidditch, sepak bola versi sihir. Bersama tim asrama Gryffindor, Harry bahkan memenangi kejuaraan quidditch Hogwarts tahun ini.

Namun ditengah gegap gempitanya liga quidditch, diam diam sekolah Hogwarts menyimpan rahasia besar yang berhubungan dengan sebuah batu yang konon sangat bertuah. Batu ini menarik kembali kenangan Harry Poter akan kematian kedua orantuanya oleh Lord Voldemort. Dan Voldemort memang telah kembali menyusup ke sekolah Hogwarts, melalui orang yang tak disangka sangka.........

Salah satu kelebihan JK Rowling adalah kemampuannya dalam menggambarkan suasana. Suasana sekolah sihir Hogwarts benar benar secara luar biasa digambarkan Rowling sehingga pembaca hanyut dalam ruang ruang kelas, asrama, menara, laboratorium, lorong lorong dan ruang bawah tanah, lapang rumput, hingga hutan hutan sekitar Hogwarts.

Suasana yang apik ditambah dengan kreativitas penciptaan mantera mantera sihir. Mantera mantera inilah yang mungkin menjadikan jutaan anak tergila gila serial Harry Potter. Seolah olah tiap mantera memuaskan keinginan anak anak akan sebuah dunia yang serba mungkin, bukan dunia orang dewasa yang serba membatasi.......

Klik di sini untuk mulai menonton Harry Potter and The Sorcerer's Stone.

5 komentar:

Chilfia Karunianty mengatakan...

wah, review yang bagus..

aku sudah baca buku Harry Potter seri pertama sampai ke-3. membaca buku ini membuat kita berimajinasi. tapi sejak diputar filmnya, saya tidak membaca buku Harpot lagi. karena lebih enak menonton filmnya.

teruslah menulis, karena saya akan terus membacanya :)

esa1969 mengatakan...

Halo Chifilia Karunianty,
Terima kasih sudah menulis komentarnya. Waktu saya kecil saya penggemar 'lima sekawan'karya Enid Blyton. Betapa bencinya saya ketika melihat serial tv-nya yang kala itu disiarkan TVRI.Apa yang saya lihat di TV beda jauh dengan yang saya imajinasikan. Apalagi skenarionya melenceng jauh dari cerita aslinya. Makin benci saya. Tapi kalau melihat Filmnya 'Harpot', rasanya memang sudah pas dengan apa yang saya imajinasikan. Mungkin karena teknologi perfilman sudah sedemikian maju sekarang. Sekali lagi terima kasih, terima ksih atas dukungannya untuk tetap menulis.

Anonim mengatakan...

mas hermione itu bukannya bapak ibunya dua duanya muggle ya ?

esa nugraha putra mengatakan...

mas/mbak anonim, anda benar. terima kasih atas koreksinya.

Yuli mengatakan...

Kalo saya suka novel , filmnya juga. Soalnya di film kadang ada scene yg ga ada atau dipotong.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Banyak Dibaca