11 Hari Usus Buntu (17)

   Adegan kepahlawanan tante Jessy terulang begitu saja dalam mimpiku malam ini. Ia seperti film lama yang diputar kembali dengan detail detail yang menakjubkan. Sebenarnya tindakan heroik tante Jessy akan biasa biasa saja bila dilakukan oleh orang lain. Tapi disini istimewanya. Seorang zero menjadi hero selalu akan mengesankan. Tante Jessy seorang zero?
    Tante Jessy tinggal tak jauh, dipisahkan beberapa rumah dari rumahku. Sudah kukatakan kami bergaul cair antar tetangga. Kami biasa mengobrol dimana saja. Di jalan, warung, dapur, bahkan di pos satpam. Yah, sisi baiknya kami semakin dekat. Tapi sisi jeleknya, kami jadi sedikit banyak tahu eusi kadut****) rumah tangga masing.
    Seperti ku bilang, usia tante Jessy menjelang 40an. Kulitnya putih, tinggi, langsing. Rambutnya lurus, jarang mengenakan kerudung seperti kebanyakan sebayanya di lingkungan kami. Busananya selalu up to date. Kelihatannya apa saja pantas dikenakan Tante Jessy. Kegemarannya adalah  mengenakan topi seperti layaknya wanita wanita Inggris. Dia pernah memperlihatkan koleksi topinya yang selemari kepada Ninok. Tante Jessy tak pernah ke Inggris. Namun menurut pengakuannya, nenek buyutnya dulu orang Inggris. Bukan orang Belanda, katanya mengingatkan.
    Yang menjadi gunjingan tak sedap adalah suaminya yang misterius. Menurut kabar entah dari mana, beliau merupakan suami kelima. Dari suami terdahulu, tante Jessy punya tiga anak laki laki. Semuanya tinggal di rumah kakek nenek mereka, alias orang tua tante Jessy. Dengan suami sekarang, dia tak punya anak. Masalahnya sang suami hanya datang berkunjung sebulan sekali. Sementara kerjaan tante sehari hari keluyuran….. entah kemana.
    Aku berusaha menerangkan penjelasan logis mengenai gaya hidup tante Jessy ini kepada Ninok. Suami tante boleh jadi pengusaha super sibuk yang tidak memungkinkan tinggal tidak jauh dari Jakarta misalnya. Sebulan sekali wajar. Suami pelaut malah cuma datang setiap tahun sekali. Adapun masalah keluyuran, mungkin bukan keluyuran. Wanita seusianya kadang berkumpul dengan rekan rekan sehati, kebanyakan teman teman sekolahannya dulu. Buatlah penjelasan yang baik baik. Maka dunia menjadi baik. Demikian khotbahku kepada Ninok. Sejak itu aku telah menjadi pembela tante Jessy yang loyal. Dan Ninok menjadi gosiper yang lebih canggih.
   Tiba tiba layar memudar. Semuanya menjadi putih. Aku kini sedang berjalan ringan di antara pohon pohon bintaro. In slow motion. Buah bintaro sebesar apel dan berwarna hijau. Tidak bisa dimakan, tetapi dapat dijadikan bahan untuk membuat bunga bungan kering seperti banyak dijual di supermarket.
     Tak banyak jalan di Sukabumi dengan pohon bintaro – pohon langka sebagai peneduh. Salah satunya jalan Prana. Aku sedang berjalan menuju rumahku sendiri. Namun beberapa langkah hampir mencapai gerbang rumahku, aku melihat bendera kuning berkibar dari sebuah rumah di deretan blok rumahku. Itu rumah Tante Jessy.
     Masih dengan adegan slow motion.  Aku bergegas melihat yang terjadi. Para tetangga dan handai taulan sudah banyak yang berkumpul. Aku terus melenggang masuk. Seonggok tubuh terbujur kaku ditutup kain hitam. Tante Jessy telah tiada.
     Layar memudar lagi. Putih lagi. Aku masih berjalan, tetap dengan format slow motion. Cuman, ngak jelas, jalan apa ini. Aspalnya berwarna putih. Langit tetap berwarna biru. Rumput tetap berwarna hijau.  Namun sungainya jernih luar biasa.
     Seorang anak muda berjaga di ujung jalan. Seragamnya merah, mirip penjaga istana Buckingham.
     “ Selamat siang pak, ada yang bisa kami bantu ? “ sambutnya ramah.
     “ eh, ya “ jawabku gugup. “ maaf, daerah apa ini ? “
     “ ini Lobby surga, pak “ jawab anak muda itu, tetap tersenyum sopan.
     “ Anda tidak sedang bercanda, kan? “ ujarku kesal.
     “ Tentu saja tidak , mari kita lihat tanda pengenal bapak…”.
     “ Tanda pengenal ? “ nadaku meninggi.
Baru aku sadar, saat itu aku menggenakan pakaian mirip gamis. Putih bersih. Anak muda tadi memberi isyarat untuk merogoh saku. Aku merogoh, dan tersentuh sebuah kartu. Perlahan kucabut, dan kulihat apa yang kudapat. Sebuah kartu mirip kartu kredit. Warnamya kuning keemasan. Oh, seri gold pula.
     “ Mari kulihat, pak “ si penjaga mengingatkan. Aku menyodorkan kartu kredit itu kepadanya. Sekilas ia memandang dan kemudian tersenyum sopan lagi.
     “ Oh, bapak masih tercatat sebagai penghuni bumi. Kartu ini fasilitas untuk membesuk kerabat atau sahabat bapak yang terpilih masuk surga. Maaf pak, kartu ini berlaku hanya satu kali dan hanya sampai hari ini. Sebentar saya lihat daftar penghuni surga terbaru.”
     Ia mengeluarkan i-pad dari saku bajunya. Jemari tanganya asyik menggeser geser layar, dan…..
     “ Hari ini Jessica Sumardi masuk surga. Sebentar….saya cek rekomendasi malaikatnya…..ah, iya menyelamatkan kehidupan seorang bayi, ….syafaat dari nabi…tidak tercatat. ACC dari Tuhan pertanggal kemarin. Bapak mau membesuknya?” tangan kanannya mempersilahkan.
     “ Tidak. Terima kasih. Saya hanya mau kembali.”
    “ Silahkan lewat sini pak “ tangan kirinya membuat gerakan aneh, sebuah lubang terbelah di udara, dan aku tersedot ke dalamnya. 

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Banyak Dibaca