11 Hari Usus Buntu (22)

     Haji Alih memulai bisnisnya dengan menjadi pedagang keliling kelontongan. Aseupan, nyiru, boboko*), dan sejenis itu yang beliau jual. Namun siapa nyana dari bisnis sekecil itu menjelma menjadi konglomerat level desa.
     Dari pedagang keliling beliau naik kelas dengan membuka jongko material. Kecil saja asalnya. Namun perlahan membesar seiring makin banyaknya konsumen loyal. Kadang kadang isu pribumi bisa dimainkan.
     “ Apakah anak anak beliau ada yang meneruskan bisnis bapaknya ? “ tanyaku kepada anak beranak ini.
     Dua orang ini saling tatap, mungkin untuk bersepakat jawaban terbaik apa yang hendak diberikan.
     “ Sayang toko materialnya sekarang sudah tutup “ jawab ibu mertuaku. Aku paham keberatan mereka menjawab pertanyaan pertanyaan jenis ini, jadi kupersilahkan mereka melanjutkan cerita.
     Tiap momen muludan dan rajaban, Haji Alih merayakannya dengan cara spektakuler. Untuk belanja jamuan saja, bahan yang dibeli mencapai satu gerobak colt dogong.  Belanja sebanyak itu mengahasilkan 700 paket makanan yang dibagikan setelah ceramah. Orang bergulung menghadiri acara muludan dan rajaban beliau. Laki laki, perempuan, anak anak, semua tumpah ruah. Pada hari itu kaum dhuafa berpesta.
    Nenek mertuaku menceritakannya dengan mata berbinar binar. Ibu mertua menjelaskan kalau nenek dulu adalah anak kesayangan Haji Alih. Sekarang pukul 11.
     Sementara di luar, hujan mulai terdengar rapat. Dari ranjang, kutengok lampu lampu di lobby paviliun, sedikit kelihatan lebih indah di malam hari. 
     Cerita berlanjut. Pada saat idul adha, beliaulah yang paling banyak memberikan kurban. Bahkan pada hari kedua, beliau berkurban lagi, khusus dipersembahkan bagi mereka yang telah capek merecah dan membagikan kurban hari pertama. Kebaikannya tak putus putus.
     Begitu pula untuk para klien, pelanggan setia toko material Barokah. Selain cash, mereka diperkenankan untuk membeli material dengan cara kredit tanpa bunga. Setiap menjelang kepergiannya ke tanah suci, utang utang mereka hangus, alias bebas bayar. Aduhai, apakah jaman akan kembali melahirkan seorang Haji Alih.
     “ Khusus mereka yang ingin mengantar beliau sampai Jakarta, beliau menyediakan 2 bis besar, dan tentu saja gratis. Orang orang memanfaatkan kesempatan itu untuk berwisata ke Rangunan setelah mengantar Haji everybody happy. Orang sekampung senang. Kali ini ibu mertua yang cerita. Nenek tertawa terkekeh kekeh sambil menutup mulutnya. Kebiasaan orang tua dulu.
     Kisah di break dulu karena cairan infus mulai menipis. Kami memanggil suster dengan bel perawat. Eh, yang datang ternyata mantri Rajawali. Jam menunjukan 1.30.

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Banyak Dibaca