11 Hari Usus Buntu (25)

Bab V
Sepak bola aneh


     Sabtu hari kelima. Kali ini tuhan berbaju putih datang juga. Didampingi suster berkacamata. Wajahnya serius. Dingin, dan tak banyak cakap. Dia langsung menyibak bajuku. Sayatan operasi ditekan tekannya. Aku tak berani bersuara. Dia kenakan stetoskop. Perutku didengarkannya baik baik. Diangkatnya stetoskop. Dia berpikir sejenak. Nampaknya ragu dengan apa yang didengarnya. Lalu ditempelkan lagi mainannya itu ke perutku. Nampaknya sekarang puas.
     “ Dok “ kataku “ Sudah boleh minum ? “ suaraku dibuat selemah mungkin.
     “ kasih saja sesendok “ jawabnya. Lebih ditujukan kepada suster dari pada kepadaku. Dia sudah balik kanan ketika lidahku baru saja hendak bertanya ihwal operasi. Secepat itu beliau berlalu. Mungkin sudah ditunggu jadwal operasi berikutnya.
                               *****
     Kali ini yang membesukku adalah forum ulama sekampung mertuaku. Mereka datang dengan pakaian kebesaran : Kopiah haji, baju koko putih, dan tentu saja sarung. Mereka kadang membuatku iri. Di tengah kehidupan bersahaja, mereka masih ikhlas melakukan pelayanan umat. Benar saja, kamarku kini dipenuhi do’a do’a panjang.  Eh, malah juga bawa kue kue yang menyenangkan hati. 

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Banyak Dibaca