11 Hari Usus Buntu (55)

     “ Maksud amang, sukma kita berdua akan mundur ke masa lalu. Sukma amang yang akan membawa sukma agan, seperti tandem dalam terjun payung. Kita akan mengarungi waktu, melihat kembali kejadian kejadian lampau, tepatnya kehidupan para karuhun kita itu.”
     “ Bagaimana bisa. “ bantahku.
     “ Hanya bisa dijawab dengan pengalaman. Jadi, bersiaplah. “
     Aku meyerah. Aku biarkan saja tangan mang Engkus beroperasi di kepalaku. Perlahan lahan aku merasa ringan, melayang layang di udara. Kubuka mataku. Uh, aku melihat sesosok tubuh di hadapanku, dari pusarnya terjuntai seutas tali berwarna keperakan dan menyambung ke padaku. Tubuh itu…  tubuhku ! Aku sudah mati ! Aku sudah mati !
     Belum. Sebuah suara mengingatkan. Itu mang Engkus. Ingat, katanya, kita sedang melepas sukma. Aku bergidik. Baiklah, sebagai pemanasan, amang mau bawa agan jalan jalan keluar dulu.
     Aku dibawa melayang keluar kamar, ke arah Lobby. Masih lobby yang sama, namun dengan tambahan jalan menuju belakang lobby tembus ke pagar tetangga. Itu jalan dalam alam 4 dimensi, jelas mang Engkus. Tidak kelihatan dengan mata telanjang.
     Sebenarnya ide ide itu banyak keluar dalam film matrix. Suatu saat, pencapaian teknologi memungkinkan kita menembus alam 4 dimensi ini. Itu bukan suara mang Engkus. Kutengok ke samping, sepertinya aku mengenalnya. Dimana aku pernah ketemu. Dimana ? sebelum sempat bertanya, dia sudah berlalu cepat. Tak kenal, kata mang Engkus menggeleng geleng kepala.
     “ Baiklah, gan. Kita akan memasuki tahap ke dua. Bersiaplah. “ nyaris seperti tahap pertama, gelap sejenak, aku sudah berada ditempat lain. 

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Banyak Dibaca