11 Hari Usus Buntu (62)





     “ Sepuluh hari ini anda benar benar helpless. “ Nada bicaranya prihatin, dia menunjukan simpatinya sekarang. Masih tetap di balik tirai.
     “ Terima kasih. Senang rasanya mengetahui masih banyak orang yang peduli dan memperhatikan. “
     “ Untuk orang anti sosial seperti anda,  itu Okay
     Dia benar. Orang ini lebih banyak tahu dari yang aku duga.
     Aku harus berterima kasih kepada mereka yang selayaknya mendapat ucapan terima kasih dariku. “ kataku tulus.
     “ Salut, salut “ kudengar dia bertepuk tangan. “ Lanjutkan “ pintanya, “ siapa saja mereka ? “
     “ Pertama tama aku harus bersimpuh di kaki orang tuaku. Tanpa kehadiran mereka, do’a mereka, dan perjuangan mereka, aku takkan seperti ini jadinya. Dan tentu saja keluarga dan sahabat.  Mereka supporter yang paling membangkitkan semangat. “
     “ Aha, si murtad yang insyaf ha.. ha… ha… “ tawanya berderai. lebay. kuterima saja ejekan itu. ejekan itu ada benarnya. Namun aku tak suka caranya ketawa.
     Suara lembut gerimis yang turun mulai terdengar berirama. Lampu halogen dari tempat parkir meredup tertutup air hujan. Tirai pembatas kamar melambai lambai, mungkin tertiup udara yang masuk dari celah celah ventilasi.
     “ Bisakah kita break dulu. Saya ingin beristirahat dulu, barang sejenak. “ pintaku. Ini bukan percakapan yang mudah.
     “ Baiklah. “
                               *****
     “  Anggaplah Tuhan sedang buka bukaan kartu, nih “   dia mulai lagi.  “ Tentu saja Tuhan, bos kita, tidak akan berkomunikasi langsung dengan mahluknyanya. Sebagian takdir takdir Tuhan akan disampaikan lewat pertanda pertanda. Sebagian lewat kejadian, seperti kasus usus buntu anda. Sebagian lewat mimpi mimpi. Pertanda pertanda itu alamiah adanya, seperti mendung sebelum hujan, ngidam sebelum kehamilan, atau suara tongeret menjelang kemarau.  Bergembiralah anda, sekarang Bos berkomunikasi lewat lidah saya “  katanya jumawa.
      “ Anggap saja operasi usus buntu semacam upacara kelahiran kembali. Orang yang hendak melakukan prosesi ini harus disucikan dulu. Badan bisa disucikan dengan mandi atau dengan cukuran seperti yang pernah anda lakukan. Tapi menyucikan dosa dosa? Dosa dosa hanya dapat disucikan dengan penderitaan. Maaf, sekali lagi maaf, saya bukan hendak menggurui, ini perkataan Bos sendiri.
     Kali ini tidak ada perlawanan dariku.
     Jadi begitulah, Tuhan telah menyelamatkannku. Tuhan telah memberiku kehidupan yang baru. Tuhan telah memberi.

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Banyak Dibaca