Dan Brown, Digital Fortress.

Note 2/11/2013: Resensi novel Inferno telah hadir, klik di sini!

Entah ini tahayul atau bukan. Dalam novel bergenre misteri, thriller, detektif, atau konspirasi, novel yang tokoh utamanya laki laki biasanya lebih sukses ketimbang yang tokoh utamanya perempuan. Agatha Christie langsung ngebut dengan Hercule Poirot. Ia menyimpan tokoh Jane Marple setelah ia yakin sukses dan kokoh sebagai penulis novel. John Grisham laris manis setelah Mitch McDeere masuk biro hukum yang berbahaya dalam The Firm. Jangan lupakan anak laki laki Harry Potter. Ada Robert Langdon yang booming dalam The Da Vinci Code.

Novel pertama Dan Brown, Digital Fortress, tokoh utamanya adalah Susan Fletcher. Kurang apa Susan. Ia cantik, seksi, tinggi, ramping, rambut cokelat kemerahan dan IQ nya 170! Ia adalah staf di NSA (National Security Agency). Mungkin tipe saya dan anda idealkan (ho ho ho). Bukan sembarang NSA lagi, dia bertugas di bagian crypto, yang bertugas memecahkan sandi sandi atau simbol simbol. Orang orang kriptografi bangga dengan komputer andalan mereka:

Secara matematis, untuk mendapatkan sebuah kunci sandi yang tepat sama tidak mungkinnya dengan memilih sebutir pasir yang tepat di pantai sepanjang tiga mil. Diperkirakan bahwa dengan menggunakan brute force attack, komputer tercepat milik NSA—Cray/Josephson II yang super rahasia—membutuhkan lebih dari sembilan belas tahun untuk memecahkan sebuah kunci sandi standar dengan 64 digit. Pada saat komputer tersebut berhasil menemukan kunci sandi dan memecahkan kodenya, isi pesan kode tersebut mungkin sudah tidak relevan.

Terjebak di tengah kekacauan dunia intelijen virtual, NSA mengeluarkan sebuah perintah rahasia yang disokong oleh Presiden Amerika Serikat. Didukung oleh dana federal dan sebuah surat kuasa untuk mengambil semua tindakan yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah ini, NSA mulai membangun sesuatu yang mustahil: sebuah mesin pemecah kode universal yang pertama di dunia. Walaupun bertentangan dengan pendapat para insinyur bahwa mesin tersebut sama sekali tidak mungkin dibuat, NSA tetap berpegang pada motonya: segalanya mungkin. Hal-hal yang kelihatannya tidak mungkin hanya membutuhkan waktu yang lebih panjang. Setelah memakan waktu lima tahun, setengah juta jam kerja, dan dana sejumlah 1,9 miliar dolar, NSA membuktikan kehebatannya sekali lagi. Bagian terakhir dari tiga juta prosesor berukuran sebesar perangko dipasang dengan solder tangan. Bagian terakhir dari pemrograman internal telah selesai dan cangkang keramik telah dipatri rapat. TRANSLTR telah lahir.

Dengan Transltr, tidak ada lagi yang rahasia di dunia maya. Khusunya bagi NSA atau Amerika. Password email dapat dibongkar dalam hitungan detik. Tidak ada lagi privacy, tidak ada lagi rahasia. Ensei Tankado, keturunan Jepang yang juga staf di NSA memilih keluar dari badan ini. Dia tak setuju sebuah badan yang melanggar hak hak privacy publik. Tak lama kemudian dia mengumumkan telah menemukan 'digital fortress', sebuah benteng digital yang melindungi dokumen dengan password yang tak mungkin terpecahkan oleh mesin manapun, termasuk Transltr. Yang lebih mengejutkan dia melelang penemuannya ini ke seluruh dunia. Tak lama, Tankando mati dibunuh....

Bahkan kematian Tankando bukan akhir masalah buat NSA. Sebuah 'cacing', sesuatu yang lebih dahsyat dari virus mulai menginfeksi gudang data digital NSA. Itu berarti setiap orang di seluruh dunia nantinya bisa mengakses data rahasia Aamerika. Itu berarti setiap negara mempunyai akses untuk mengcopy konstruksi rudal balistik Amerika, peta peta satelit, dan teknologi termutakhir kapal selam militer. Sebuah password dari almarhum Tankando harus dipecahkan. Tapi bagaimana caranya?


Saya membaca novel ini setelah The Da Vinci Code. Ow, terasa sekali degradasinya. Walaupun harus diakui pemahaman Brown terhadap teknologi informasi luar biasa, novel ini tidak memberi kesan terlalu mendalam seperti hal nya Da Vinci Code. Di antara Angels & Demons, Deception Point, The Da Vinci Code, dan The Lost Symbol, novel ini serasa paria.

Dengan Resensi Digital Fortress ini berarti saya telah meresensi seluruh novel Dan Brown yang telah diterbitkan. Buku keenam Brown, Inferno, akan dirilis di seluruh dunia pada tanggal 14 Mei 2013. Sedikit bocoran, novel Inferno berlatar belakang karya sastra Dante yang sangat terkenal Divina Commedia atau Divine Comedy dalam bahasa Inggris yang ditulis antara 1308 - 1321. Buku ini bercerita tentang perjalanan Dante di tiga alam yang berbeda, Inferno (neraka), Purgatorio (api penyucian), dan kemudia Paradiso (surga). Kota kota di Italia kembali menjadi panggung besar novel ini.

Siapa tokoh utama dalam novel ini nanti? tidak lain dan tidak bukan sang profesor Harvard pakar simbologi agama, Mr. Robert Langdon. Langdon nampaknya menjadi tokoh keberuntungan Brown layaknya Hercule Poirot bagi Agatha Christie. Akan kah Inferno mengulang sukses novel novel Brown terdahulu yang telah terjual sebanyak 80 juta copy di seluruh dunia (wow)? kita tunggu saja.

Note 2/11/2013: Resensi novel Inferno telah hadir, klik di sini!


Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Banyak Dibaca