Andrea Hirata, Laskar Pelangi

Hampir tiga tahun lalu saya membaca tetralogi Laskar Pelangi. Itu karena ikut ikutan laskarpelangimania yang sedang mewabah. Pencarian di google keywords saat itu untuk Laskar Pelangi luar biasa banyak. Namun yang menjadi takjub adalah hingga saat ini pencarian dengan keyword ini masih tetap banyak. Menyimak apa yang ditawarkan Andrea dalam tetraloginya, memang kita tak usah heran. Muncul mendadak entah dari mana, tidak pernah mempublikasikan karya apapun sebelumnya, bak meteor tiba tiba Andrea melejit di langit sastra. Dia menawarkan originalitas, karya lepas tanpa beban, pikiran murni masa kanak kanak yang coba dia ingat dan tulis ulang dalam sebuah novel. Hasilnya memang luar biasa. Banyak orang tersentuh. Ketika hati tersentuh, tangan akan ringan merogoh kocek. Tapi jangan lupakan peran media, model Kick Andy. Sudah sepantasnya Andrea tidak mengklaim prestasinya sebagai upaya tunggal. Tuhan berperan, media berperan, Internet berkontribusi, dan sepatutnya dia mencium tangan bu Mus.

Salah satu 'rahasia' sukses Laskar Pelangi, saya pikir, selain originalitas adalah gayanya yang menjadikan tokoh nyata menjadi fiktif, dan menjadikan hal hal yang fiktif menjadi tampak nyata. Yang mana fiktif, yang mana nyata, hanya Andrea yang tahu. Yang jelas, imajinasi anak belitong ini memang luar biasa. Dia cukup mengerti bahwa agama bukan diciptakan untuk menyekat cara berpikir. Seorang pendeta bisa mengadopsi seorang anak yang tetap dibiarkan menjadi seorang muslim. Dia punya modal mindset bahwa pluralitas itu menarik. Jatuh cinta pada anak Tionghoa bukan barang haram. Sebagai seorang anak dia punya banyak hero asli Indonesia. Bapaknya, Rudy Hartono, Rhoma Irama. Bu Mus, seorang Muhammadiyah, mengajarinya bagaimana seorang  Soekarno menderita dengan mendekam dalam penjara. Menjadi pemimpin tak bisa dikarbit. Menjadi guru lebih tidak mudah. Berapa gaji bu Mus kala itu, Dre? Tapi anak anak Laskar Pelangi tetap riang, tetap bengal, dan tetap punya cita cita. Buku ini memang dipenuhi hal hal baik.  

Namun di buku ke empat, Andrea mulai 'goyang'. Ia kelihatan terlalu memaksakan diri membuat bukunya tampak megah dan lebih komersial. Tidak ada yang salah dengan keputusannya mengubah style tetralogi Laskar Pelangi. Akhirnya kita harus sadar, kita hidup dalam dunia real. Menikah, punya anak, rumah, kendaraan, sekolah. Semua ada harganya.

Sebagai seorang pragmatiser, saya membayangkan betapa kayanya Andre sekarang. Selain finansial, fasilitas diundang ke tempat tempat baru di berbagai belahan dunia telah juga memperkaya hidupnya. Tidak setiap penulis dikaruniai anugerah semacam ini. Buku pertama langsung menjadi buku best seller. Tidak John Grisham, tidak Dan Brown. Kesamaan mungkin ada pada JK Rowling-Harry Potter. Kesamaan lain adalah buku buku mereka berikutnya tidak sehit buku buku sebelumnya. The Casual Vacancy akan terdengar asing disandingkan dengan serial Harry Potter. Sebelas Patriot? Hmmm.

Saya lebih menyukai gaya Agatha Christie yang pada penampilan novel pertamanya mampu mencuri perhatian, dan terus berkobar hingga puncak di And Then There Were None. The Beatles terus berkobar sejak Please Please Me hingga berpuncak Sgt. Pepper Lonely Heart Club Band. Mereka terus berkarya. Kecintaan pada profesi berujung manis pundi pundi yang terus gendut.

Kecintaan pada profesi dan duit yang terus mengalir. Mungkin kebahagiaan ada di sana.

Catatan penulis: pencarian keyword contoh resensi buku, contoh resensi novel, contoh resensi buku fiksi, contoh membuat resensi buku, belakangan menunjukkan tren menaik. Nampaknya para googler sekolahan atau kuliahan rame rame mendapat tugas untuk menulis resensi buku. Apalagi yang paling mudah kalau bukan googling, dan jadilah keyword contoh resensi buku, contoh resensi novel, contoh resensi buku fiksi, contoh membuat resensi buku sering nongol di mesin pencari. Saya sendiri termasuk reviewer yang kurang suka dengan aturan aturan kaku menulis resensi, seperti memulainya dengan data jumlah halaman dan penerbitnya. Saya mencoba membebaskan ikatan ikatan, aturan aturan agar kejujuran hati mendapat tempat yang lebih besar dalam tiap resensi yang saya lakukan. Bukan berarti aturan aturan itu salah. Malah diwajibkan untuk format sekolahan dan kuliahan. Saran saya, ambil saja berbagai gaya yang disajikan, kemudian temukan gayamu sendiri - pada waktunya.

Tag: contoh resensi buku, contoh resensi novel, contoh resensi buku fiksi, contoh membuat resensi buku

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Banyak Dibaca