Tampilkan postingan dengan label Dicky Zainal Arifin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dicky Zainal Arifin. Tampilkan semua postingan

Dicky Zainal Arifin, Arkhytirema: Moyang Urang Sunda (5)

Saya 'terpaksa' memperpanjang sekuel resensi Arkhytirema melihat begitu banyaknya trafik yang datang ke blog ini. Beberapa minggu nangkring sebagai top review menandakan kehadirannya cukup menyedot perhatian. Lagian terkadang kita membutuhkan breakthrough untuk mencari lagi tema tema baru resensi, selain yang sudah duluan menjadi hits di sini. Agatha Christie dan Soekarno telah mencetak lebih dari 1000 views, sesuatu yang tidak terbayang sebelumnya.

Dicky Zainal Arifin, Arkhytirema: Buku Kedua, Tentang Kontroversi (4)

Dicky memang belum berhenti menebar kontroversi. Konon para alien yang dibedakan dalam empat bangsa Tarx, Mosram, Zneznela, dan Bropa ternyata adalah keturunan nabi Adam dari putranya Qabil. Mereka kemudian diusir dari planet bumi karena berkelahi melulu. Empat bangsa besar ini kemudian menguasai galaksi galaksi lain yang bahkan lebih luas dari galaksi Bimasakti.

Dicky Zainal Arifin, Arkhytirema: Buku Kedua, Tentang Alien (3)

The Truth is out there,

Apakah alien benar benar ada. Siapakah alien itu? Bagi Dicky, alien adalah bagian dari sejarah peradaban manusia sendiri. Kita sendiri sebenarnya alien. Apa yang kita anggap hari ini sebagai alien adalah para keturunan Adam yang terpencar menghuni berbagai planet di galaksi semesta.

Dicky Zainal Arifin, Arkhytirema: Buku Kedua, Tentang Rokok (2)

Asyik juga membaca trilogi kedua Arkhytirema. Pada buku pertama bung Arkhy (boleh kan saya memanggilnya demikian?) telah dilantik sebagai Duta Perdamaian bagi semesta alam atau seluruh galaksi. Pada buku kedua ini umur Arkhy menginjak 15 tahun. Ouch, itu usia anak anak. Tapi bagi bangsa Lemurian, kematangan tidak diukur dari Usia. Arkhy diangkat menjadi duta oleh seorang nabi pada usia yang sangat belia.

Dicky Zainal Arifin: Arkhytirema (1)

Dalam jagat buku Indonesia, sepertinya novel ini kurang bergema. Setidaknya teman teman di Blogger Buku Indonesia belum ada yang mereview buku ini. Mungkin karena kita tidak bisa mendapatkannya di rak toko-toko buku terkemuka. Karenanya mungkin dikategorikan sebagai buku indie. Dan kepada buku indie.... sahabat sahabat blogger biasanya jadi kurang bersahabat.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Banyak Dibaca