Tampilkan postingan dengan label Ir. Soekarno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ir. Soekarno. Tampilkan semua postingan

Ir. Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi: Islam Sontolojo




Entahlah, kadang membaca buku Di Bawah Bendera Revolusi seperti membaca berita hari hari ini. Bagaimana kalau ada judul berita: Seorang Ustad Tega Mencabuli Santrinya di Rumah Ibadah. Pasti anda berpikir itu headline koran kuning jaman sekarang. Sebenarnya Soekarno menulis ulasan serupa dalam Pandji Islam tahun 1940. Rupanya kala itu ada seorang Kiai yang menghalalkan baginya untuk menyetubuhi para murid perempuannya, dengan dalil dalil pula! Akhirnya sang Kiai dijebloskan ke bui. Soekarno mengabadikan peristiwa itu dalam tulisan: Islam Sontolojo.

Nah si Bung juga punya pengalaman langsung dengan penyimpangan serupa. Di sebuah kota kecil di Priangan (dia tidak menyebut nama tempat tepatnya). Di sana terdapat 'bidadari bidadari' (itu istilah langsung Soekarno) yang siap dinikahi satu malam! artinya ada perempuan perempuan muslim yang dinikahkan secara sah oleh penghulu, untuk kemudian ditalak tiga keesokan harinya. Mereka dapat nafkah, ya dari mahar yang dibayarkan. Lantas para penghulu juga mendapat persenan, dan bersyukur bahwa mereka sudah menghindarkan dua insan dari perjinahan. SONTOLOJO! bisa dipahami kalau di Bung demikian marah.

" Maka benarlah perkataannja Halide Edib Hanum, bahwa Islam di zaman achir achir ini bukan lagi agama pemimpin hidup, tetapi agama pokrol bambu " (hal.499)

>> Dapatkan penawaran khusus buku ' Di Bawah Bendera Revolusi ' jilid pertama cetakan ketiga 1964. Klik disini.

Ir. Soekarno - Jenderal Soedirman dan Sepucuk Surat


Saudaraku,
Hari Nasional 17 Agustus sudah mendekat. Saja kira saudara ta’ mempunjai uniform jang bagus. Maka bersama ini saya kirim bahan untuk uniform baru.
Haraplah terima sebagai tanda persaudaraan.
Merdeka!
Soekarno
9/8 ’49




Surat itu ditulis Oleh Ir. Soekarno (Presiden) kepada Soedirman (Jenderal, Panglima Besar). Sederhana, tulus, tak berpanjang-panjang kata. Bukan surat resmi, surat yang dimulai dengan sapaan 'Saudaraku'. Isinya adalah surat pengantar kiriman bahan seragam untuk seorang Panglima Besar yang akan menghadiri perayaan 17 Agustus tahun 1949. Kelihatannya Soekarno tahu betul Soedirman tak punya seragam yang pantas untuk dikenakan pada perayaan hari kemerdekaan itu.

Entah lah, saya, anda harus bagaimana menginterpretasi surat itu. Ada perhatian yang tulus dari seorang teman kepada teman yang lainnya. Ada kesederhanaan dari Panglima Besar Angkatan Perang sehingga pakaian seragamnya pun dinilai tak pantas untuk dikenakan.

Selamat hari Pahlawan, saudara saudara!
Merdeka! Merdeka! Merdeka!

>> Dapatkan penawaran khusus buku ' Di Bawah Bendera Revolusi ' jilid pertama cetakan ketiga 1964. Klik disini.

Sumber: Tulisan Hendra Wardhana di Kompasiana 10 November 2013

Ir. Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi: Soekarno Jadi Analis Perang?


Tahun 1941, itu sedang seru serunya kecamuk perang dunia kedua di Eropa. Rupanya berita perang sampai juga ke Hindia Belanda. Orang orang di sini tak kalah serunya membahas strategi perang seperti membicarakan bola. Rupanya Bung Besar juga turut nimbrung. Entah beliau memihak mana, pihak sekutu atau Jerman cs.

Ir. Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi: Barang Murah China

Di kota kecil tempat saya tinggal, Sukabumi, beberapa saat yang lalu berdiri toko yang menjual hampir seluruhnya barang barang (murah) dari China. Kini toko tersebut luar biasa ramai. Mungkin karena bertemunya tiga faktor sekaligus: barang barang murah dengan kualitas bagus dan dibutuhkan masyarakat. Saya kira fenomena ini juga sedang terjadi di hampir seluruh pelosok Indonesia. Tanah air kita kebanjiran produk murah made in China.

Rupanya sejarah memang selalu berulang. Fenomena banjir produk murah ini bukan terjadi kali ini saja. Melalui harian Fikiran Ra'jat tahun 1933, Bung Karno pernah mengingatkan kesadaran publik tentang adanya imperialisme baru. Beliau waktu itu prihatin dengan kondisi masyarakat Marhaen yang gandrung dengan produk murah made in Japan:

Buku Soekarno: Inilah Yang Ingin Saya Tulis

Inilah yang ingin saya tulis bila menyusun sebuah Buku Soekarno: bab pertama saya isi dengan ramalan  kemunculan Soeakarno oleh seorang raja Sunda Pajajaran yang hidup di tahun 1500an, Siliwangi. Kenapa sang raja memberi perhatian besar atas kemunculannya?

Ir. Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi : Tentang Pergerakan Kaum Buruh.

Akhir akhir ini kita sering melihat demo demo buruh yang marak. Agaknya mereka kurang puas dengan kondisi kerja atau gaji yang mereka terima. Namun ternyata aksi buruh tidak hanya terjadi sekarang sekarang ini saja, pada tahun 30an aksi buruh di Indonesia sudah mulai menggeliat. Setidaknya kita mendapat gambaran dari tulisan Soekarno di harian Fikiran Ra'yat tahun 1933 :

Ir. Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi : Tentang Ahmadiyah.

Soekarno pernah dituduh menjadi Ahmadiyah. Dari pembuangannya di Endeh tahun 1936, beliau membantah keras. Dalam tulisannya dia menyatakan ' Tidak Pertjaja Bahwa Mirza Gulam Ahmad adalah Nabi '.

Ir. Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi : Nasionalisme, Islamisme, Marxisme.

Pada usia yang sangat muda, baru saja lulus T.H.S (ITB Bandung, sekarang), Soekarno sudah banyak menulis hal hal yang berat untuk ukuran anak muda sekarang. Di antaranya adalah artikel yang ditulis di Suluh Indonesia Muda tahun 1926 : Nasionalisme, Islamisme, Marxisme. Sebenarnya Soekarno memulai tulisannya dengan mencoba menjawab kenapa kolonialisme menjadi 'wabah global' saat itu :

Mario Reading, Nostradamus: Wangsit Siliwangi tentang Soekarno

Ternyata naiknya Soekarno menjadi
Pemimpin Republik Indonesia
telah diramalkan oleh
Siliwangi 400 tahun sebelumnya. 

Membaca buku buku ramalan tidak akan pernah membosankan, terlepas dari absurd dan ngawurnya sebuah ramalan. Namun pesona Nostradamus berhasil menyihir para pengikutnya karena kredibilitas ramalan ramalannya. Yang paling spektakuler tentu saja ramalan tentang serangan terhadap menara kembar World Trade Center, NY. Di negeri ini orang yang paling getol mengutip ramalan ramalannya adalah Permadi, SH. Seorang paranormal yang juga politikus. Dan ramalannya adalah Indonesia bakal menjadi negeri gilang gemilang! Amin!

Ir. Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi : Tentang Jenghis Khan.

Lewis Gannet, seorang djurnalis Amerika, pernah menulis didalam " New York Tribune " dizaman dulu. Ia berkata : " Hitler tertampak ketjil kalau dibandingkan dengan Napoleon: dan Napoleon, Caesar dan Iskandar Zulkarnain tampak pula ketjil kalau dibandingkan dengan Djingis Khan serta pengganti penggantinja itu, orang orang Asia jang berkuda. "

Ir. Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi.

Siapa tak kenal Ir. Soekarno ? dialah presiden pertama Republik Indonesia. Namun mungkin tak banyak yang tahu kumpulan tulisannya yang dibukukan dibawah tajuk " Di Bawah Bendera Revolusi ". Si Bung ini sudah mulai menulis sejak masih pelajar di Hogore Burgerschool (HBS, setara SMA?) Surabaya, lebih lebih lagi kala menjadi mahasiswa di Technische Hogeschool ( THS, ITB Bandung sekarang).

Dalam buku ini, tulisan tulisannya terentang antara tahun 1926 sampai tahun 1941 terserak di berbagai media seperti  Suluh Indonesia Muda, Fikiran Ra'jat, Pandji Islam, dan Pemandangan. Berbagai buah pikirnya menunjukan minat beragam terhadap berbagai hal mulai dari Nasionalisme, Islam, Demokrasi, teman teman seperjuangannya ( diantaranya tentang Mohammad Hatta ), surat surat dari pembuangan ( Penjara Sukamiskin Bandung, dan Endeh ), Kapitalisme, Karl Marx, Marhaen, India, Perang Dunia, Hitler, hingga Jenghis Khan. Wow, luas banget, produktif banget! 

Pantas saja orang dibuat terpukau oleh kiprah beliau. Bila menyimak tulisan tulisannya, betapa kita terkagum kagum oleh kekuatan berpikir, semangat, dan mimpi mimpinya untuk membangun sebuah bangsa. Jauh jauh hari dia sudah mengingatkan tentang bahaya imperialisme modern lewat serbuan produk produk murah dari luar negeri ( kala itu impor barang murah dari Jepang, seperti halnya barang barang murah made in China sekarang ). Dia bangkitkan harga diri bangsa Asia dengan membandingkan Napoleon dan Hitler tidak ada apa apanya dibanding Jenghis Khan. Tidak segan segan dia mengecam cara berpikir sebagian pemeluk Islam dengan sebutan Islam Sontoloyo. Inilah Soekarno yang berkobar kobar. Soekarno yang tak kenal lelah. Soekarno yang telah menulis sendiri takdirnya lewat tulisan tulisan yang disuarakannya jauh sebelum memproklamirkan kemerdekaan tahun 1945. 

Dan kita kemudian menikmati hasil jerih payahnya. Namun kita telah melupakannya......

>> Dapatkan penawaran khusus buku ' Di Bawah Bendera Revolusi ' jilid pertama cetakan ketiga 1964. Klik disini.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Banyak Dibaca