Tampilkan postingan dengan label Novel 11 Hari Usus Buntu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel 11 Hari Usus Buntu. Tampilkan semua postingan

11 Hari Usus Buntu tamat, lalu....

Cerita bersambung 11 Hari Usus Buntu baru saja berakhir dengan open ending. Sebenarnya saya sudah menyiapkan buku kedua, karena cerita ini dwilogi. Namun tidak ada salahnya saya mengajukan pertanyaan, apakah cerita 11 Hari Usus Buntu perlu dilanjutkan? Mohon komentarnya.

11 Hari Usus Buntu (78)

     Yang ditakutkan adalah kemungkinan kematian mendadak……
     “ Apakah ini berarti hampir pasti orang ini akan di Off hari ini juga? “ Roqib bertanya nyaris berteriak. Mukanya penuh dengan peluh.
     “ Belum tentu. Belum tentu! Ada berbagai kemungkinan yang mungkin akan dilalui orang itu! “ jawab Azroil tak kalah berteriak.
     “ Maksudmu? “ teriak ‘Atib nyaris tak terdengar.
     “ Ada kemungkinan Tuhan akan mengirimnya ke dimensi penentuan…” balas Azroil.
     “ Dimensi pen… apa itu? “ Roqib tergagap.
     “ Diam semua, liputan langsung penjemputan sudah masuk di layar monitor!......”
     Dalam upaya terakhirnya, Joe Righ berusaha menyelundupkan virus kedalam apapun model penjemputan yang terjadi. Ia akan menjadi semacam gangguan yang manis menggiring kepergian si pasien. Virus ini akan menggiring imajinasi pasien dalam lorong lorong dan pusaran gelap. Suara suara yang mengerikan juga telah diprogram. Setidaknya ia mengharap ketabahan pasien akan terkikis dan rasa frustrasi yang mendalam akan menderanya.
     Dia mengusap peluh yang membasahi wajahnya.
                                      *****
     Aku minta ijin untuk sebentar pamit menuju kamarku. Aku minta Seruni menemaniku.
    Kami sekarang berada di kamar. Masih terdengar sayup sayup suara musik dan ramai suara orang. Aku membuka jendela, dan berdiri dia atas balkon. Seruni mengikuti. Udara luar terasa menyegarkan. Entah dimana ini, dan di jaman apa, aku sudah tak berani menanyakan. Nikmati saja. Apalagi di sisiku ada Seruni.
     Tangan seruni melingkar di pinggangku. Lembut dan hangat. Ku belai lambutnya.
     “ Kakek punya firasat sebentar lagi kita akan berpisah, sayang “ kataku perlahan.
     “ Ngak apa apa, kek. Nikmati saja selagi kita bisa “ jawabnya. Aku mengangguk. Jadi inilah ujung perjalanan ini. Luar biasa. Berpisah diiringi kekasih tercinta. Kucium rambutnya. Inilah wangi yang kelak akan selalu kurindukan.
     Dari cakrawala kulihat dua malaikat  mengepakkan sayapnya, makin lama makin dekat. Akhirnya mereka sampai ditepi balkon. Mereka mengapung di hadapanku. Kepakan sayapnya lembut berirama. Tangannya terentang menyambutku. Senyum mengembang di bibirnya.
    Aku melirik ke wajah Seruni, meminta persetujuan. Dia mengangguk pelan. Perlahan kulepas pelukannya. Tanganku menyambut tangan malaikat. Tubuhku mulai terbang digapit dua malaikat. Tak sedetikpun pandanganku ku lepas dari Seruni. Air mata menitik tak tertahan. Seruni makin lama kelihatan makin jauh.


TAMAT

11 Hari Usus Buntu (77)

     Di luar dugaan Ki Cakrabuana dan Ki Mindakalangan ternyata mudah melebur dengan nenek Angpau. Rupanya di jaman beliau, berinteraksi dengan orang China daratan adalah hal yang biasa dilakukan. Selain dengan orang portugis, hubungan dagang dengan negeri Tiongkok sudah berlangsung sejak lama. Kadang obrolan mereka diselingi cing co le ah yang aku sendiri ngak ngerti.
     Suasana lebih cair dan rileks sekarang. Denting suara alat alat makan mulai terdengar. Canda dan ketawa ketiwi mulai ramai saling bersahutan. Malam ini bakal menjadi malam yang panjang. Anak anak Ciomprang sudah mengeluarkan bola plastik dan mendemostrasikan mengolah si kulit bundar di hadapan para perawat.
     Sementara teman teman kantorku sudah minta panitia agar mengganti musik dengan organ tunggal saja. Biduannya sudah dipersiapkan, ada dari mereka katanya. Oh, ternyata provokatornya adalah kang Diro, pemborong nyentrik itu.  Sementara Hardy terlihat paling depan siap berjoget. Nampaknya dia sudah lupa dengan urusan dukun perdukunan.
     Para ibu ibu dari komunitas prana mulai dengan hobi narsis mereka. Berbekal HP kamera, mereka poto sana, poto sini, langsung di up load mengubah status FB mereka.  Benar benar pesta habis habisan. Everybody happy now. Malam ini sepertinya akan menjadi malam yang paling dikenang dalam hidupku.
                                     *****
     HP tiga malaikat itu secara serempak berdering menerima SMS dari Bos. Isinya berintikan rencana untuk menjemput pasien langsung dengan dua malaikat dari divisi Pencabut Nyawa, tempat Azroil bernaung. Waktunya : beberapa menit kemudian.
     Mereka panik dan bergegas berkumpul di ruang monitor. Beberapa saat yang lalu monitor masih menunjukan suasana jamuan yang meriah. Mereka memutuskan untuk pergi ke kantin melepas lelah. Tiba tiba pesan maut itu memaksa mereka kembali ke markas. Tampak suasana pesta masih berlangsung di layar monitor. Kontras dengan rencana penjemputan yang akan berlangsung beberapa menit lagi.
     “ Apakah ini akhir dari nasib orang ini ? “ kali ini tampang ‘Atib lebih serius lagi, tepatnya serius dan tegang.
     Kedua rekannya sibuk dengan layar monitor masing masing. Roqib sibuk dengan program prediksi. Jemarinya sibuk mengetik ngetik tombol keyboard hingga menimbulkan suara berdetak detak. Dia mengkalkulasi seluruh amalan dan kemungkinan safaat, dan bonus bonus amalan lainnya. Apakah klien mereka berpeluang masuk surga. Jawabannya : blank!
     Azroil memprediksi model penjemputan apa saja yang akan dipertunjukkan Tuhan kali ini. Tidak ada jawaban memuaskan. Tuhan telah membikin ini jadi rahasia.

11 Hari Usus Buntu episode 76

11 Hari Usus Buntu (76)


     “ Dan akhirnya kepada keluarga, istri dan anak anakku. Aku takkan berpanjang kata. Terima kasih. Terima kasih. “ aku menguat nguatkan diri. Lama terdiam.
     Bagaimanapun pidato harus ditutup. Perlahan lahan aku berkata…
     “ Dan terakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada panitia yang telah bekerja keras menyelenggarakan acara jamuan ini. Nikmatilah malam ini saudaraku saudaraku. Esok hari kita harus kembali bekerja. Masyarakat membutuhkan kita. Bangsa yang besar membutuhkan lebih banyak lagi pahlawan. Hidup Indonesia! Merdeka! Merdeka! Merdeka! Wassalamua alaikum warahmatullahi wabarakatuh! “ Tiba tiba saja pengawal di belakangku menyematkan peci hitam, kaca mata hitam, pangkat warna warni di sakuku, dan menggepitkan sebuah tongkat komando di tangan kiriku. Bagai Bung Karno aku mengacung acungkan tangan terkepal setinggi tingginya. Tepuk tangan, standing applause, membahana memenuhi ruangan. Ada sekitar lima menit mereka tak beranjak.
     Masih dengan tongkat komando aku dikawal berkeliling menyalami hadirin satu persatu. Suasana riuh rendah dengan teriakan yel yel revolusi. Kertas perak warna warni ditaburkan mengikuti kemana aku melangkah. Samar samar Fredie Mercury melantunkan we are the champion. Ah, Penyerahan piala liga champion-pun masih kalah seru dengan apa yang kualami saat ini. Ku baca salah satu spanduk yang dipasang di dinding : SELAMAT DATANG KEMBALI PADUKA YANG MULIA.
                                                         *****
     Setelah selebrasi ala Bung Karno itu, yang pertama ku datangi adalah kedua orang tuaku dan kedua orang mertuaku. Kupeluk dan kucium tangan mereka. Berikutnya adalah istri dan anak anakku.
     Kemudian….. Laila dan Seruni. Kami seperti melakukan reuni kecil keluarga. Ki Mindakalangan dan Ki Cakrabuana turut bergabung. Entahlah rasanya seperti saat itu. Benar benar campur aduk.
     Musik mulai dimainkan lagi. Ternyata kini alunan degungan. Siapa yang punya ide musiknya degungan? Hidangan mulai disajikan. Pelayan berseragam hitam putih dengan dasi kupu kupu hilir mudik menghidangkan sajian jamuan.
     Pendeta advent datang ke kerumunanku dengan seorang nenek. Apa kabar saudaraku katanya. Aku merangkulnya hangat.
     “ Perkenalkan, ini nenek Angpau “ katanya riang. Aku mencium tangan nenek angpau layaknya santri mencium tangan pak kiai. “ Beliau ini ketua panitia jamuan malam ini “ tambahnya bangga. Aku semakin hormat pada nenek itu.

11 Hari Usus Buntu (75)

     “ Tiada yang lebih membahagiakan bagi si sakit, ketika sahabat sahabat datang menjenguk. Baru terasa, bersahabat jauh lebih berarti ketimbang berselisih. Saya merasakannya hadirin. Diri ini merasakannya! Demi Allah! “ Rasanya aku mulai habis habisan.
     “ Dan…… “ aku memainkan tempo “ Ditengah kehausan dan suntikan suntikan yang harus saya terima setiap hari, seorang suster datang membawakan kisah. “
     Aku menyetop dulu kalimat biar efek penasaran mulai terbentuk.
     “ Dia bertutur…. membawa saya ke masa depan, untuk menjenguk seorang cicit yang dengan ikhlas mengorbankan masa mudanya untuk merawat sang ibu yang kena stroke. Malu saya, karena diri ini tak mungkin mau melakukan hal serupa itu. “ aku mengakhiri kata kata terakhir dengan menggeleng geleng kepala tanda penyesalan. suara bisik bisik mendengung untuk mencari tahu siapa suster dimaksud, siapa pula cicit yang dimaksud. Ada juga hadirin yang mulai tersedu.
     “ Aduhai, apakah jaman akan kembali melahirkan anak anak yang sedemikian berbaktinya kepada sang bunda ? oh, jaman, tidakkah kau dengar ? “ nadaku melengking. Aku nyaris berpuisi sekarang. Orang orang terhenyak.
     “ Tuhan, Tuhan, jadikanlah anak cucu kami orang orang yang berguna untuk sesamanya, Tuhan ! “ aku melolong, meratap, seperti da’i yang sedang bertausiyah. Balairung menjadi sunyi. Senyap yang panjang.
     Perlahan kuturunkan suaraku “ marilah kita berdo’a untuk cucu kita. Semoga kehidupan mereka jauh lebih bernas dan bersahaja “
     “ Amin “ serentak hadirin menimpali. Balairung kembali sepi.
     “ Terima kasih saya untuk orang tua…… “ Aku tak sanggup melanjutkan. Aku hanya bisa terpaku menatap wajah tua mereka. Menahan emosi tidaklah mudah. Ditambah sebagian hadiran sudah mulai sesegukkan.
     Aku menghirup nafas panjang. Harus kuselesaikan pidato ini. Suaraku agak serak serak sekarang.
     “ Terima kasih juga saya haturkan untuk para karuhun yang telah sudi menerima kedatangan kami. Kini kita tahu, sejarah mereka tidak melulu kisah peperangan. Banyak hal hal mulia yang telah mereka kerjakan. Kita bukan saja mewarisi darah yang mengalir dari mereka, namun juga mewarisi kesalahan kesalahan mereka untuk tidak mengulanginya lagi, selagi kita mau belajar “ Dua orang ksatria karuhunku berdiri dan menyidekapkan tangannya memberi hormat.
     “ Untuk cucu dan cicitku “ lagi lagi aku harus menahan emosi. “ maafkan kakek. Kakek bukanlah kakek yang sempurna untuk kalian. Terima kasih kepada kalian yang telah mengajariku bagaimana seharusnya bersikap kepada orang tua. Entah dari mana kalian mendapatkan kebijaksanaan semulia itu “  Seruni menitikkan air mata, Laila, seperti ku tebak, tetap tegar, wajahnya tidak berubah.

11 Hari Usus Buntu Episode 74

11 Hari Usus Buntu (74)



     Aku agak tercenung sejenak. Kemudian “ sebenarnya ngak ada rasanya. Saya tak merasakan apapun ketika operasi. Atau mengalami atau membayangkan apapun selama operasi “ sambil sekilas melirik Haji Endang Sadani.
     “ Ooohhh “ serempak hadirin ber-oh ria. Para suster hanya musam mesem saja.
     “ Saya lanjutkan. Justru hari hari setelah operasi adalah hari hari yang…. penuh dengan penderitaan. “ Lagi lagi mukaku tersenyum ke arah dokter bedah, yang dibalas dengan senyuman pula.
     “ Lima hari setelah operasi, saya saya benar benar puasa total. 1 X 24 jam. Tidak minum, apalagi makan. Kehidupan saya hanya tergantung pada seutas selang infus. Ohhh, Betapa rapuhnya sebenarnya kehidupan kita. “ suasana berubah senyap. Orang orang lebih serius mendengarkan.
      “ Dan pada saat saat itulah kita memohon mohon pertolongan Tuhan. Kita minta ini, kita minta itu, padahal kemana saja kita ketika sehat? “ suaraku meninggi bergaung di balairung.
     “ Di saat yang sama kita meratap ratap mengapa musibah ini harus menimpa kami. Apa dosa saya? itu tanya kita seolah olah tak punya dosa. Betapa memalukan sebenarnya kelakuan kita ini. Tapi Tuhan masih berbaik hati dengan menjawab : Ini bukan musibah hambaKu, ini rahmatKu juga. “
     Pak pendeta mengangguk angguk.
     “ Tapi lagi lagi kita berbantah. Kenapa harus saya yang menerimanya, kenapa bukan orang lain? Akhirnya saya mendapatkan – syukurlah – jawaban atas semua ini. Selama sebelas hari ini saya diberi penglihatan. Alhamdulillah saya dipertemukan dengan Tante Jessy dan Haji Alih “ Kedua orang yang disebut berdiri memberi hormat kepada para hadirin.
     “ Mereka telah menunjukan kesederhanaan Tuhan. Hal hal kecil yang dilakukan dengan tulus membawa mereka pada surgaNya. Amin “ hadirin bertepuk tangan menghormati kedua orang tadi. Kedua orang tadi duduk kembali.
     “ Hal kedua adalah keluarga. Selama sebelas hari keluarga adalah orang paling dekat yang mendampingi – lebih tepat – melayani kita nyaris 24 jam. Mereka ikut menderita. Tapi mereka melakukannya dengan tulus, tanpa mengeluh. Adakah lagi yang lebih indah dari pada indahnya persaudaraan yang dibangun dengan tulus ? “  semua orang rasanya ‘ terpukau’ dengan retorikaku.
     “ Baru saya mengerti kenapa nabi kita begitu datang ke Madinah maka  hal pertama yang dilakukannya adalah mempersaudarakan Muhajirin dan Anshor. “ Suaraku agak bergetar. Kini nabi ku bawa bawa. Sebagian hadirin matanya mulai berkaca kaca.

11 Hari Usus Buntu Episode 73


     “ Seperti kebanyakan orang tua dulu, keluarga kami dikaruniai banyak keturunan. Kami kakak beradik tujuh orang. Ditengah keterbatasan materi, orang tua kami berhasil mendidik anak anaknya sehingga semua menjadi sarjana. Hanya berbekal gaji PNS yang tidak seberapa waktu itu. Kadang mereka menjual apa saja yang bisa dijual, berutang ke sana kemari agar anak anak bisa tetap bersekolah. Dan Alhamdulillah, tujuh orang anak anaknya berhasil menjadi sarjana. “ Suasana senyap. Hadirin masih ingin mendengarkan.
     “ Saya masih ingat betapa bersahajanya kami hidup dulu. Pernah suatu ketika kami hanya punya sepotong ikan peda. Sepotong ikan itu kami potong potong sehingga semua anggota keluarga bisa makan saat itu. Kami sering melewati saat saat sulit. Mungkin kesulitan kesulitan yang kami alami membekas dalam hati setiap anak, terutama untuk anak pertama seperti saya. Sejak saat itu saya bertekad apabila saya sudah bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri, maka saya akan membalas dendam akan membeli apa saja yang bisa dibeli, dan makan apa saja yang bisa dimakan. Sebuah dendam yang salah dan berakibat fatal. “ suara hadirin mulai berdengung.
     “ Sejak saya mempunyai penghasilan sendiri, sejak itu pula saya mulai berpestapora. Kebiasaan yang terus berlanjut sampai berkeluarga. Lemari es kami dipenuhi makanan makanan yang memanjakan perut. Bahkan yang sebenarnya tidak berguna dan membahayakan kesehatan keluarga. Kami mulai seperti maniak kuliner yang berkeliling dari satu gerai ke gerai lainnya hanya untuk melampiaskan nafsu memuaskan lidah. Sampai akhirnya sebuah tes darah menghentikan saya. Saya bersyukur, Tuhan telah bertindak lebih awal  “ sejenak kuberhenti.
      “ Lho, kenapa harus bersyukur? “ aku melanjutkan agak sedikit ngabodor. “ kebayang, kan jika saya datang dengan gula darah 800, waaahhhh….bisa langsung game point tuh….. “ mereka melanjutkan tertawa sopan bahkan sebagian ada yang bertepuk riuh.
     “ Baiklah ini yang lebih serius. Tuhan kelihatannya masih sayang kepada si pendosa ini. Dipaksanya saya datang ke rumah sakit walau diembel embeli operasi usus buntu. Dan begitulah, akhirnya saya dioperasi. Makasih dok “ kataku sambil membungkuk ke dokter bedah. Dokter balas mengangguk.
     “ Terima kasih juga dok “ kali ini aku membungkuk ke arah dr. Shanti yang menbalas dengan senyum kecilnya.
     Seorang hadirin nampak mengacungkan tangannya. Oh, itu Ayah Asep. “ Bagaimana rasanya dioperasi? “ tanyanya. Hadirin yang lain mengiyakan pingin tahu juga.

11 Hari Usus Buntu (72)

     “ Puteri Seruni, dan dr. Laila “ bisik penjaga dibelakangku. Jadi semua orang hadir malam ini, gumamku.
      “ Bapak lihat juga dua orang asing di deret kiri sebelum mantri Rajawali. “ aku kembali menengok ke kiri. Benar. Kenapa tadi seperti tidak terlihat ?
     “ Itu ki Cakrabuana dan Ki Mindakalangan. “ Bahkan karuhun pun menyempatkan diri datang, benakku kali ini yang menggumam. Penampilan mereka luar biasa kokoh, wajahnya menyiratkan kegigihan seorang ksatria.
     Dan tibalah saatnya aku berpidato. Aku mengambil nafas.
                                        *****
     Setelah pembukaan dengan salam dan ucapan terima kasih kepada hadirin yang telah datang, aku memutuskan untuk mengisi pidatoku dengan pengalaman hari hari ketika aku dirawat.
     “ Hadirin yang kami mulyakan, pertama kali saya datang ke Rumah Sakit, saya disambut, ehm,  oleh dua ekor kucing….. “ dokter bedah tergelak. Kena dia. Hadirin yang lain masih pasif. Mungkin belum mengerti apa artinya kucing di rumah sakit.
     “ Ada banyak arti seekor kucing hadir di rumah sakit. Bagi kebayakan orang, itu berarti keteledoran yang tidak boleh terjadi di Rumah Sakit. Namun bagi saya, kehadiran mereka adalah keajaiban. Saya mendengar percakapan mereka. Saya sungguh mendengar percakapan meraka. Dan saya mengerti apa yang mereka perbincangkan. Saya mengerti bahasa mereka! “ Hadirin terdiam. Mereka pikir mungkin aku sedang membual.
     “ Mereka bilang, kucing kucing itu bilang, saya ini cuma orang bebal yang kekenyangan makanan “ sebagian hadirin tertawa sopan. Yang lainnya cuma senyam senyum.
     “ Tapi saya sadari, perkataan mereka benar. Ketika saya datang, gula darah terukur 400. Dokter saya bilang : ini DM tipe 2, nak!  DM Yang artinya juga Doyan Makan.  Artinya memang akibat kekenyangan makanan seperti yang dibilang kucing kucing itu tadi. Jadi syukurlah – terima kasih Tuhan - saya dimasukkan ke  rumah sakit “  kataku sambil menengadahkan tangan seperti orang komat kamit berdo’a. Spontan hadirin bertepuk riuh. Mungkin aku berbakat juga jadi comedian di stand up comedy misalnya. Suasana menghangat sekarang.
     “ Mengapa semua ini bisa terjadi ? pertanyaan ini terus datang berulang ulang selama saya terkapar di Rumah Sakit. Akhirnya perlahan lahan saya temukan jawabannya. Mungkin dengan memahami latar belakang keluarga. Saya lahir dari keluarga biasa biasa saja. Waktu itu tahun 1969, bangsa kita lagi susah susahnya,  banyak yang kurang gizi. Orang tua kami dua duanya berprofesi sebagai guru. Bukan profesi yang menjanjikan kelebihan materi. Namun mereka tetap tekun bekerja, mendidik anak anak bangsa tumpuan masa depan. Kalaupun kita hari ini dikaruniai kelimpahan materi, atas jasa merekalah semua ini bisa terjadi “ aku mengambil nafas dulu. Sebagian hadirin mengangguk angguk setuju.

11 Hari Usus Buntu (71)

     Aku berjalan memasuki lorong yang didominasi warna merah marun. Lampu lampu redup bergerak di atas kepalaku, atau aku yang bergerak melintasi lampu lampu yang menerangi sepanjang koridor. Sekilas mengingatkanku pada lorong menuju ruang operasi. Namun disini jauh lebih hangat.  Sementara dua orang pemuda tadi mengiringiku dari belakang.
     Tak lama aku sampai di sebuah pintu besar berukir logam mulia. Dua orang penjaga pintu dengan seragam yang sama mengangguk, kemudian membukakan kedua daun pintu yang beratnya kutaksir satu kuintal perdaun pintunya.
     Aku melangkah memasuki ruangan jamuan. Sebuah meja besar dengan kursi kursi klasik menyambutku. Taplak putih dengan anggun menjadi backround berbagai hidangan diatasnya. Lampu lampu Kristal tergantung lembut diatas meja. Piring, sendok, garpu dan pisau berkilauan memantulkan cahaya. Sementara gelas minum mengingatkanku pada holly grail. Para tamu undangan berdiri menyambutku. Pakaian mereka rata rata berjas warna gelap untuk yang laki laki, sementara yang perempuan mengenakan gaun malam.
     Penjaga di belakangku menarik sebuah kursi, dan mempersilahkanku untuk memdudukinya. Ternyata itu kursi utama, letaknya tepat di ujung tengah meja, tempat para pemimpin bertahta. Setelah aku duduk, aku mempersilahkan para tamu untuk duduk. Suara geseran kursi sejenak meramaikan balairung.
     Ting ting ting. Seseorang mendentingkan sebuah holly grail dengan sendok minta perhatian. Seluruh hadirin memusatkan perhatian pada orang itu. Ternyata dia adalah dokter bedah yang mengoperasiku.
     “ Minta perhatian para hadirin. Malam ini kita mengadakan jamuan untuk menghormati pemimpin kita yang telah kembali dari Rumah Sakit dengan selamat. Jadikanlah malam ini malam yang membahagiakan untuk beliau dan juga kita semua. Amin “
     “ Amin “ sahut hadirin serempak.
     Dari sisi kiri meja seorang berdiri seolah sudah diskenariokan. Tangannya ditengadahkan mengambil sikap berdo’a. Ternyata mang Engkus. Do’a do’a panjangnya sanggup membius hadirin sehingga seisi balairung nyaris berhenti bernafas. Do’a diakhiri dengan mengusapkan telapak tangan ke wajah masing masing.
     Penjaga di belakangku membisikkan sesuatu di telingaku. Ini saatnya bapak memberi sambutan, bisiknya. Sambutan ? aku tak siap dengan sambutan. Namun pandangan para hadirin sudah tertuju padaku.
     Akhirnya aku berdiri untuk memberikan sambutan. Suasana sunyi. Aku menyapu pandanganku kepada semua yang hadir. Di deretan kanan selain dokter bedah, ku lihat dr. Shanti. Purdy E. Chandra dan Miming Pangarah. Kemudian tante Jessy. Di sebelahnya duduk Haji Alih, Haji Endang Sadani beserta Paulus. Berturut turut adalah Pendeta Advent,  mantri Rajawali, Elang, dan para suster. Bahkan para boy band dan ibu ibu laundry duduk dengan anggunnya. Aku mengangguk kepada mereka. Meja ini masih panjang. Dideretan berikutnya adalah teman teman kerjaku. Mereka nyaris tak terlihat karena meja seakan makin menjauh.
     Di deretan kiri kulihat kedua orang tuaku. Oh, Tuhan betapa mereka sudah tua. Disusul kedua mertuaku. Kemudian Ninok, Awang, Oit, Mang engkus, Ayah Asep, dan para legenda PS. Ciomprang. Disebelahnya adalah Maharesi Goalpara dan rombongan keluarga beserta forum ulama Selaawi. Disusul tetanggaku dari komunitas Prana yang selalu ceria. Total hampir 100 orang yang duduk dalam satu meja.
     Ada yang mengusik hatiku. Seorang gadis cantik dan seorang wanita paruh baya dengan wajah tegas duduk terselip diantara Awang dan Oit.  Mungkinkah mereka…… 

11 Hari Usus Buntu (70)



Bab XI 
Jamuan


   Pemuda berseragam merah hitam ala prajurit Buckingham itu datang menemuiku. Aku teringat dan mengenalinya terakhir kali ketika melayat Tante Jessy. Kali ini ditemani pemuda lain berseragam sama yang tak kalah gagahnya. Gerak gerik mereka bukan main elegan, ciri khas pelayan para bangsawan.
     Tunggu dulu, apakah ini berarti aku akan dijemput………
     “ Jamuan sudah siap, pak. Kami persilahkan bapak untuk menuju ruang jamuan. Para undangan sudah menunggu.“ katanya sambil membungkuk sopan. Tangannya memberi tanda mempersilahkan. Pemuda satunya mengangguk mengiyakan.
     Baru ku sadari kondisiku/ penampilanku sudah berubah banyak. Mukaku sudah tercukur bersih. Rambutku tersisir rapih dengan potongan proporsional. Pakaianku adalah kemeja putih dengan jas abu abu, mirip film tahun 60an. Namun ruangan tempatku berada bergaya barok dan rakoko. Suasana darah biru abad pertengahan terasa banget mengitariku.
     Kupegang sayatan bekas operasi di perutku. Masih terasa, namun tak lagi diperban.
     Si seragam merah kembali mengingatkan. Ok, kataku.




11 Hari Usus Buntu Episode 69

11 Hari Usus Buntu (69)





        “ Maksudnya ? “
     “ Selama tiga bulan masa pemulihan cedera, anda mulai melihat strategi permainan tim anda sebagai penonton dengan pikiran lebih jernih. Tubuh anda diberikan kesempatan untuk beristirahat lebih panjang sementara pemain lain didera padatnya jadwal liga. Sementara beberapa teman yang berseberangan mulai berani mengoceh bahwa karir anda sudah habis. Anda mulai bisa memilah mana sahabat, mana bukan sahabat. Anda mulai berpikir untuk berkarir sebagai apa setelah berhenti jadi pemain. Anda mulai mengendalikan pengeluaran uang yang nyaris tanpa kontrol selama ini. Anda mungkin jadi lebih dekat dengan keluarga. “
       “ Dan akhir cerita ? “
     “ Pada saat menjelang akhir kompetisi, anda benar benar bugar untuk kembali bertanding. Anda telah come back dengan perspektif yang lebih jernih. Anda benar benar menguasai medan, dengan semangat dan motivasi yang lebih agung. Anda dan tim anda berada di puncak klasmen ketika kompetisi berakhir. Sesuatu yang mungkin tidak akan pernah bisa diraih tanpa cidera itu…. “
     Aku menerawang. Mungkin usus buntu ini….
     “ Ya, Tuhan telah mentackle anda dengan usus buntu ini. Entah apa yang terjadi bila Tuhan tidak mengirim anda ke ruang rawat inap. Mungkin something worst will happen. Jalani dan pergunakan momen ini sebaik baiknya. Kita tidak tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi. Wallahu. “
        “ Siapa anda ini sebenarnya ? “ tanyaku lemah.
     “ Saya adalah orang yang bermukim dalam hatimu. Orang yang menyertai hari harimu. Saya adalah harapanmu, ketakutanmu. Saya adalah mimpi mimpimu. “
     “ Itu berarti……”  kataku tak dilanjutkan.
     “ Saya adalah ….dirimu sendiri. “ 

11 Hari Usus Buntu (68)

     “ Waktu yang diberikan Bos hampir habis. Masih ada waktu tersisa untuk... (melirik arloji) dua pertanyaan terakhir yang hendak anda sampaikan. “ nadanya resmi sekarang.
     Aku merenung sejenak, “ baiklah, ada dua hal yang hendak saya tanyakan. “ jawabku serius. “ Pertama, Kenapa Tuhan bersikeras memberikan ‘anugerah’ ini kepada saya.” Aku biarkan suasana agak mengambang beberapa detik.
     “ Yang kedua, siapa sebenarnya anda? “  ujarku mantap.
     Nafasnya teratur ketika mencerna dua pertanyaaku tadi. Sepertinya dia sudah menduga pertanyaan itu akhirnya akan keluar juga.
     “ Baiklah. Untuk pertanyaan pertama. Anda suka bola, kan? “
     “ Ya? “ jawabku.
     “ Misalkan anda bermain untuk sebuah kesebelasan. Sebuah kesebelasan yang berhasil mencuri perhatian berkat permainan menawan. Anda bukan kapten. Tetapi permainan anda diakui berhasil mewarnai permainan tim. Seolah warna tim anda adalah warna anda sendiri. Ketika anda tidak dimainkan, tim kehilangan warnanya. Tim kehilangan karakter bermainnya. “
     “ Teruskan “ kataku tertarik.
     Well,…. Selalu ada dua sisi untuk sebuah keberhasilan. Sebagian memberikan apresiasi yang layak untuk apa yang telah anda berikan untuk tim. Mungkin sebagian yang lain tidak sependapat…. “
     “ Maksudnya ? “ tanyaku.
     “ Mungkin mereka memandang kinerja bagus anda sebagai sebuah ancaman ….. “  membiarkanku sejenak mencerna kata katanya.
     Lalu? “
     “ Tuhan suka anda. Tuhan selalu suka orang berprestasi. Tuhan melindungi mereka. Apalagi anda melakukannya dengan tulus ... demi tim. “
     “ Hubungannya dengan operasi usus buntu ini? “
     “ Ah, ya. Bukan hal aneh bila kesebelasan lawan tidak menyukai kiprah anda di lapangan. Tetapi jauh lebih berbahaya bila dalam kesebalasan anda, dalam tim anda, ada juga yang kurang suka dengan keberhasilan anda…..”
     “ Bagaimana bisa terjadi? “ tanyaku.
     “ Mengapa tidak? “ balasnya cepat.  “ ingat, selalu ada sisi hitam putih pada segala sesuatu. “
     Aku terdiam. Dia benar.
     “ Sekarang anda sedang menikmati manisnya bermain bola. Segala sesuatunya berjalan sesuai harapan anda. Tim anda dinaungi keberuntungan, sebagian besar laga yang anda mainkan berakhir dengan kemenangan. Tetapi siapa yang bisa memastikan akhir dari semua ini. Siapa yang bisa memastikan akhir yang bahagia untuk seorang pemain bola. Anda kenal Greg Muller? “
     “ Ya, pemain Jerman Barat pada piala dunia tahun 1974. Striker, top scorer, membawa Jerman juara dunia kala itu. “ jawabku fasih.
     “ Dia dielu elukan sebagai pahlawan Jerman. Puja puji berdatangan bak air bah. Tahu yang terjadi kemudian? Orang mulai lupa Greg Mueller, digantikan bintang bintang baru. Nasib membawanya sebagai tunawisma pemabuk di stasiun kereta. Hidupnya hancur. Untung Beckenbauer masih peduli menolongnya. “
     Dan bompun akhirnya dijatuhkan, “ Siapa yang bisa menjamin masa depan anda sesuai dengan yang anda harapkan?  pun bila anda sudah mencurahkan segenap tenaga dan pikiran, pun bila anda melakukannya dengan tulus……. “
      “ Lalu apa hubungannya dengan usus buntu ini? “ kejarku tak sabar.
     Dia menghela nafas. Begitulah dirimu yang tak sabar itu.
     “ Anda melihat peluang dengan melihat sisi pertahanan lawan yang terbuka, ditinggal wing back yang terlanjur maju. Anda melakukan sprint, dan bola langsung diumpan tepat dibelakang back terakhir lawan. Anda berhasil lolos dari jebakan off side, dan tinggal berhadapan keeper lawan. Tiba tiba seorang back yang putus asa mentackle dengan keras dari belakang. Anda tersungkur, cidera, dan harus ditandu keluar lapangan. Anda tak bisa melanjutkan pertandingan. Dokter memvonis anda tiga bulan untuk beristirahat. “
     “ Tragis “
     “ Ya, seperti usus buntu anda itu “
  

11 Hari Usus Buntu (67)

     Maharesi Goalpara mencelupkan kedua kakinya ke aliran sungai yang dingin yang membelah kawasan Pondok Halimun. Bila Tuhan menciptakan kawasan Puncak sambil tersenyum, aku yakin Tuhan menciptakan Pondok Halimun sambil terkekeh.
     Kakinya digoyang goyangkan membuat percikan air. Walaupun saat itu tengah hari, tetapi hawa di kaki gunung Gede Pangrango tetap sejuk. Aku hanya berjongkok di salah satu batu.
     Maharesi Goalpara dikenal mempunyai reputasi yang tinggi di bidang medis. Ia bukan dokter. Dari cerita cerita yang kudengar, sang Resi mendapatkan ilmunya secara spiritual. Para karuhunnya menurunkan ilmu pengobatan lewat mimpi mimpi.
     Penyakit penyakit yang diobatinya bermacam macam, multi dimensi. Mulai dari hipertensi sampai kanker. Mulai dari masalah masalah keluarga sampai urusan kerja. Antrian panjang selalu merupakan pemandangan sehari hari di depan rumahnya.
     Hari ini sang Resi bebas. Ia sedang menikmati indahnya pemandangan hutan dan kebun teh. Mau tak mau kita harus berterima kasih kepada orang Belanda dalam hal ini, katanya. Mereka yang telah membangun Sukabumi, dan melengkapinya dengan perkebunan yang indah indah.
     Aku diundang untuk menemani pelesirnya. Tentu saja aku senang. Namun bukan Cuma itu maksudnya mengundangku.
     “ Hendaknya engkau bedakan antara praktik pengobatan spiritual dan praktik perdukunan “ katanya memulai percakapan. Seekor burung melintas di cakrawala.
     Tiba tiba aku teringat dua orang dukun yang datang ke ruang rawat inapku. “ Maksudnya bagaimana uwa Resi ? “ sahutku. “ Bukannya mereka sama saja, bekerja dengan hal hal yang tak kasat mata ? “
     “ Menurut sejarahnya, ilmu ilmu gaib turun ke bumi lewat perantaraan dua malaikat di jaman nabi Sulaiman. Pada saat itu tentu saja ilmu yang mereka bawa bebas nilai. Namun seperti halnya pisau, kemampuan gaib itu bisa dipergunakan untuk hal hal yang berguna. Tapi juga bisa dipergunakan untuk melakukan sebuah kejahatan. “
     “ Jadi yang membedakan mereka adalah hendak diapakan kemampuan yang mereka punyai itu, uwa Resi ? “ aku minta penegasan.
     “ Engkau mulai mengerti sekarang “
Sejumput kabut turun dari arah gunung. Gerakannya perlahan menyapu ke arah lembah, dan akhirnya menguap di perkebunan teh.
     “ akhir akhir ini banyak praktik perdukunan palsu. “ hawa mulai mendingin. Ku tinggikan kerah jaketku.
     “ Dukun juga manusia. Mereka melakukan apa saja untuk tetap survive. Sama seperti kita, bukan ? “
     “ Bagaimana kita mengenali ciri ciri mereka ? “ kejarku. Sang Resi malah tersenyum.
     “ Jangan pergi ke dukun, nak. “ Jawabnya mantap.
     “ Maksud saya, begini uwa. Mereka bukan dukun. Katakanlah paranormal…. Seseorang yang dikaruniai bakat khusus, indigo, mutan, shaman, healer, atau sejenisnya ? “
     “  Tuhan berhak memberikan bakat khusus kepada mereka. Mereka berhak menggunakannya untuk kemaslahatan umat. Boleh saja. Namun yang berbakatpun kadang kadang menipu. Mereka menipu biasanya karena dikejar dua hal : memenuhi hasrat bendawi dan hasrat seksual. Lihat latar belakang orang ini. Bila mereka ‘normal’, berkeluarga, punya penghidupan yang jelas, kemungkinan orang ini bukan penipu. Di jaman sekarang orang perlu uang untuk membiayai dapur, beli bensin untuk mobil, jajan untuk anak sekolah, dan seterusnya. Nah dari mana semua itu didapat ? dari jampi jampi ? “

11 Hari Usus Buntu (66)


                                                               *****
     “ Anda kenal mereka ? “ kata sekuriti hotel berseragam safari hitam hitam. Wajahnya bersih tanpa kumis.
     “ Ya dan tidak “ jawab Ninok acuh tak acuh.
     Itu ruangan sekuriti hotel. Ku lihat Ninok duduk berhadap hadapan dengan sekuriti tadi. Mereka hanya dipisahkan meja selebar 60 cm. Tanpa mejapun ruangan itu sudah sempit.
     Dua sekuriti lain berdiri di samping kanan mereka. Mereka berseragam biru putih khas satpam. Mungkin anak buah sang interrogator. Suara berisik datang dari handy talky yang diselipkan pinggang mereka.
     “ Mengapa anda tiba tiba menyerang mereka ? “ kembali si interrogator bertanya.
     “ Akan saya katakan langsung kepada mereka “ jawab Ninok kalem.
     Menghadapi mahluk perempuan yang licin seperti ini, tiga laki laki berperawakan tegap pun tidak berdaya. Tiba tiba seorang anak buah menjawab panggilan handy talky. Setelah ya ya ya yang panjang dia berbisik ke telinga bos nya, “ Pak Purdy ingin bertemu ibu ini. “
     Ninok pun ‘digelandang’ ke lounge hotel.
                                                    *****
     Tidak seperti sikap sekuriti dan ruangan tikusnya tadi, Purdy dan Ming sangatlah ramah.
     “ Mari bu, silahkan duduk “ kata Purdy menyilahkan. Ming hanya mengangguk sopan. Sekuriti bersafari mengambil duduk agak kebelakang. Dua anak buahnya sudah ngeloyor entah kemana.
     Purdy menjentikkan jarinya kearah pelayan.
     “ Mau minum apa, bu ? “ tanya Purdy masih dengan kesopanan luar biasa.
     “ Teh hangat saja, tanpa gula “ jawab Ninok singkat.
     “ Kalau boleh tahu, nama ibu…. “
     “ Ninok “
     Purdy mengangguk angguk entah maksudnya apa. Sementara Ming sudah asyik dengan BB-nya. Musik Live mendendangkan lagu Norah Jones, come away with me in the night…….   
     “ eehh, begini mbak Ninok…. “
     “ Mengenai pemukulan itu, saya memang sudah menadzarkannya sejak dulu. Ketika tahu anda akan mengadakan kembali seminar di kota ini saya sudah bersiap. “ tutur Ninok lancar.
     “ Oohh… “
     “ Ketahuilah pak Purdy, semenjak suami saya mengikuti seminar orang gila anda, suami saya terbelit utang yang cukup besar untuk ukuran keluarga kami. “
     “ Ooohh.. “
     “ Anda juga sama gilanya “ kata Ninok sambil menunjuk Ming. Yang ditunjuk agak terkejut sehingga BB-nya terjatuh ke lantai. Untung lantainya karpet.
     Purdy masih memberi kesempatan kapada Ninok untuk memuntahkan amunisinya. Namun Ninok merasa sudah cukup. Sementara pelayan hotel sudah datang menyajikan secangkir teh hangat untuk Ninok. Ninok menghirupnya perlahan. Enak juga.
     “ Begini mbak Ninok. Memang sering kami mendengar keluhan dari para istri yang suaminya mengikuti seminar seminar kami. Tapi sebenarnya cita cita kami baik. Kami hanya ingin menciptakan sebanyak mungkin pewirausaha tangguh di Negara kita ini. “
     Kali ini Ninok tersenyum. Cangkir teh sudah diletakkan kembali diatas meja. “ Itu saya sudah paham. Saya hanya ingin memukul hidung anda. Itu saja. Dan bagi anda, pak Ming, anda hanya ketiban sial karena kebetulan sedang bersama pak Purdy. “
     Joe Righ cukup puas. Dia memang tidak berhasil memanipulasi karya Azroil. Tapi sesaat dia bisa menyelundupkan program dendam pada mimpi sang pasien. Sebuah lompatan besar, katanya menghibur diri.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Banyak Dibaca