Tampilkan postingan dengan label Andrea Hirata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Andrea Hirata. Tampilkan semua postingan

Antara Andrea Hirata dan Anne Ahira


Andrea Hirata. Anne Ahira. Sekilas dua nama itu hampir mirip. Dulu saya menduga Andrea Hirata itu kalau bukan orang Jepang pastilah orang Maluku. Ingatan saya tertuju pada Andre Hehanusa atau Nakamura atau Takashimura (obral). Eh, ternyata dia anak Belitong. Anne Ahira, lebih membingungkan lagi. Saya mendapat newsletter terus menerus dari perempuan Jepang yang menawari saya belajar internet marketing pada Asian Brain yang dikelolanya. Perempuan Jepang yang bahasa Indonesianya lancar banget. Eh, salah lagi. Ternyata dia mojang Bandung! Andrea Hirata dan Anne Ahira, dua nama mirip yang prestasinya sama sama melambung. Hirata pada Andre adalah nama pemberian ibunya dengan harapan agar Andrea selalu ingat ahirat. Ahirat ahirat ahirat (coba ucapkan dengan cepat) maka akan terdengar Hirata. Sebuah penamaan yang tepat karena Hirata menjadi penulis terlaris di Indonesia. Namanya yang keJepang-Jepangan mungkin membawa berkah. 

Andrea Hirata, Laskar Pelangi

Hampir tiga tahun lalu saya membaca tetralogi Laskar Pelangi. Itu karena ikut ikutan laskarpelangimania yang sedang mewabah. Pencarian di google keywords saat itu untuk Laskar Pelangi luar biasa banyak. Namun yang menjadi takjub adalah hingga saat ini pencarian dengan keyword ini masih tetap banyak. Menyimak apa yang ditawarkan Andrea dalam tetraloginya, memang kita tak usah heran. Muncul mendadak entah dari mana, tidak pernah mempublikasikan karya apapun sebelumnya, bak meteor tiba tiba Andrea melejit di langit sastra. Dia menawarkan originalitas, karya lepas tanpa beban, pikiran murni masa kanak kanak yang coba dia ingat dan tulis ulang dalam sebuah novel. Hasilnya memang luar biasa. Banyak orang tersentuh. Ketika hati tersentuh, tangan akan ringan merogoh kocek. Tapi jangan lupakan peran media, model Kick Andy. Sudah sepantasnya Andrea tidak mengklaim prestasinya sebagai upaya tunggal. Tuhan berperan, media berperan, Internet berkontribusi, dan sepatutnya dia mencium tangan bu Mus.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Banyak Dibaca