Tampilkan postingan dengan label Sir Arthur Conan Doyle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sir Arthur Conan Doyle. Tampilkan semua postingan

Sherlock Holmes: The Adventures of Sherlock Holmes, 1891

Setiap penulis mempunyai kekurangan dan  kelebihannya masing masing. Apa plus minus Sir Arthur Conan Doyle? Kekurangannya adalah beliau kurang suka menulis cerita panjang panjang, katakanlah cerita dalam bentuk sebuah novel dengan minimal 300 halaman standar. Dia nampaknya kurang suka berbasa basi, atau sekedar menghidupkan suasana sebuah novel. Dia bukan penyabar, ingin selalu kisahnya segera cepat berakhir. Setidaknya novel The Adventures of Sherlock Holmes menunjukkan kecenderungan itu. Novel ini berisi 12 petualangan Sherlock dalam mengungkap kasus. Tapi di sinilah kelebihan Doyle. Saya sampai bingung memilih mana yang terbaik dari kasus kasus itu. Absolutely genius.

Dalam novel ini, naratornya tak lain adalah dr. Watson. Dia dikisahkan sudah menikah dan mulai lagi praktik dokternya. Namun rupanya kerinduan akan sosok Holmes menjadikannya tak bisa jauh jauh dari Baker Street no. 221B, tempat sang detektif mengurung diri sambil mengisap kokain. Mereka akhirnya kembali terlibat dalam beberapa kasus yang menegangkan.

Kisah dimulai justru dengan 'kekalahan' Sherlock atas musuhnya, yang sekaligus wanita yang dikaguminya, Irene Adler. Adegan terakhir menggambarkan kecenderungan wanita yang disukai Holmes ini, dia menolak untuk dibayar oleh 'Sang Raja' atas jerih payahnya. Dia hanya meminta photo Irene dengan gaun hitam sebagai kenang kenangan....

Ada yang menarik, mungkin sedikit ekstrim, mungkin juga bikin ketawa. Di cerita ketiga - Misteri di Boscombe Valley - dikisahkan Sherlock melacak bekas bekas jejak kaki di TKP dengan menggunakan kaca pembesar! ha ha ha ha. Kebayang kan sambil membungkuk bungkuk matanya melototin lensa. Tapi, ya begitulah Sherlock. Ia memang keranjingan bukti - forensik.

.... Holmes masih melanjutkan pelacakannya, dan akhirnya sekali lagi membungkukkan badan hingga wajahnya hampir menempel di tanah sambil berteriak kegirangan. Dia berada di situ selama beberapa saat, sambil menyibakkan daun daun dan ranting ranting,... dengan kaca pembesarnya dia mengamati bukan saja tanah, tapi juga sebatang pohon... lumut.... (hal. 154)

Dan apa hasil dari kegilaan macam tadi?

"Dan pembunuhnya?"
"Seorang pria jangkung, kidal, kaki kanannya pincang, memakai sepatu pemburu yang solnya amat tebal serta jaket abu abu, mengisap cerutu India, pakai pipa, dan membawa pisau lipat yang tumpul di sakunya... ( Hal.155)

Anda tidak akan menemukan nuansa seperti itu dalam kisah kisah Hercule Poirot. Tentu saja bukan berarti orang yang disebut terakhir lebih baik. Namun bila anda pemula yang ingin membaca karya karya Doyle/Sherlock, saya menyarankan untuk mulainya dari buku ini. Buku ini penuh gairah dan imajinatif. Mudah mudahan anda menjadi pencinta Sherlock sejati.

Sherlock Holmes: The Valley of Fear, 1914

John Douglas, tewas tertembak di kastilnya, Manor House, Birlstone. Kastil? ya, karena rumah itu dikelilingi parit. Satu satunya jalan masuk hanya jembatan yang bisa dinaikturunkan. Penerangan dengan lilin dan lampu minyak. Tidak heran karena cerita ini berseting sekitar tahun 1882. Asyik. Ini cerita jamannya para ksatria, namun ilmu forensik sudah mulai berkembang. Sherlock, dr.Watson dan petinggi Scotland Yard, Inspektur MacDonald (bukan McDonald yang 'itu') menyambangi tempat kejadian. Sehari sebelumnya Sherlock memang menerima sandi yang dikirim orang misterius yang berisi nama orang dan tempat. Namun tak dinyana ternyata mengarah pada pembunuhan Douglas. Kalau begitu, ini bukanlah pembunuhan biasa.

Di TKP mereka menemukan petunjuk petunjuk aneh. Korban ditembak dari jarak dekat oleh senjata dengan laras yang dipotong. Namun kenapa ada barbel dan cincin kawin yang hilang dari mayat korban. Ada Cecil Barker sahabat mendiang korban, yang nampaknya pagar makan tanaman. Disinyalir dia mempunyai affair dengan Mrs. Douglas. Tiba tiba tersiar kabar ada seorang wisatawan yang hilang, sepeda yang ditinggalkannya dicurigai dipakai pembunuh Douglas sebagai sarana melarikan diri. Atau dia sendiri pembunuhnya? Sebab seperti yang dikatakan Mrs. Douglas, hari hari menjelang kematiannya, sang suami tampak gelisah dengan kehadiran sang wisatawan.

Menurut Sherlock, seharusnya setiap petunjuk merupakan satu kesatuan skenario yang utuh. Namun bagaimana skenario yang sesungguhnya terjadi? Akhirnya sang detektif minta untuk dikurung di kamar TKP selama satu malam! Pagi pagi sekali dia datang dengan ide brilian... kita jebak pembunuhnya! katanya. Nah, keringkan parit!....

Boleh saya katakan ini kasus yang jenius dari Sir Arthur Conan Doyle. Anda boleh bandingkan dengan Pembunuhan atas Roger Ackroyd-nya Hercule Poirot Agatha Christie. Kejutan yang sukar anda duga. Sherlock menebaknya dengan jitu sebagian atas hasil risetnya terhadap kastil, dan penelusuran terhadap masa lalu Doulas di Amerika. Angka sempurna untuk kasus pembunuhan!

Cuman, pengungkapan kasus ini rasa rasanya terlalu cepat. Dari 300 halaman novel terjemahan Gramedia ini, pada sekitar halaman 150an kasus ini terpecahkan. Sherlock menutupnya dengan meyakinkan. Lho sisa halaman lainnya? yang itu bagian kedua novel ini. Isinya adalah riwayat masa lalu Mr. Douglas di Amerika. Jadinya memang boring, tidak ada lagi misteri. Antiklimaks!

Sherlock Holmes: The Hound of Baskervilles, 1901 (Anjing Setan Baskerville)

London. Sherlock Holmes dan dr. Watson kedatangan tamu seorang bangsawan Inggris, Sir Henry Baskerville dan dokter pribadinya, dr. James Mortimer. Bangsawan dari Devonshire ini datang sehubungan kematian pamannya, Sir Charles Baskerville yang misterius. Sebab pisik kematian adalah serangan jantung, namun tempat kejadian rawa rawa dan saat kematian malam hari menjadikan orang curiga ini bukan kematian wajar. Ditambah, ditemukan jejak anjing ukuran raksasa di tempat kejadian....

Moyang keluarga Baskerville, Hugo Baskerville, terbunuh dengan cara yang sama. Seekor anjing hitam raksasa terlihat di lokasi terbunuhnya sang kakek. Sejak itu anjing setan baskerville seolah menjadi kutukan yang membayangi klan Baskerville. Bagaimanapun, kejadian supranatural tidak pernah ada dalam kamus kriminal Sherlock. Mestinya ada sesuatu dibalik pembunuhan yang terjadi. Maka diputuskan mereka -kecuali Sherlock- akan pergi ke Baskerville Hall, tempat keluarga Baskerville tinggal dari generasi ke generasi. Tempat ini dikelilingi rawa rawa, dimana kabut menyelimuti hampir sepanjang waktu. 

dr. Watson bertemu dengan berbagai karakter orang di sana. Ada kakak beradik Stapleton yang pecinta alam, Mr. Frankland sang pengacara, suami istri Barrymore pelayan keluarga, dan Laura Lyons, janda kembang. Berkembang berita kaburnya seorang buronan berbahaya, Snelden, yang konon bersembunyi di sekitar rawa rawa. Seorang misterius lainnya muncul di malam malam rawa. Suara lolongan anjing lebih sering terdengar. Suasana nampaknya mulai mencekam di Devonshire. Apalagi korban pertama jatuh. Dia adalah Snelden, mati terjatuh karena dikejar anjing setan.... 

Tidak disangka sangka Sherlock datang mengejutkan Watson. Ternyata selama ini dia berada di suatu tempat di desa itu. Lewat serangkaian investigasi keliling desa, pembunuh Sir Charles nampaknya datang dari masa lalu keluarga Baskerville sendiri. Rupanya cinta, pengkhiantan, dan harta warisan berkelindan menjadi motif pembunuhan. Dan naga naganya pembunuhan akan terjadi sekali lagi. Mereka berdua harus cepat bergerak, kali ini kemungkinan calon korbannya adalah Sir Henry. Namun kabut yang tebal menjadikan pandangan mereka terhalang, ketika anjing setan itu mulai mengejar Sir Henry....



Sherlock, Poirot, dan Bond.

Berpindah dari karakter Hercule Poirot ke Sherlock Holmes memerlukan 'persiapan' mental yang agak khusus. Dua duanya detektif kondang, Inggris, namun dengan perbedaan yang mendasar. Agatha Christie menciptakan Poirot yang asal Belgia ini dengan tampilan yang kurang 'good looking'. Digambarkan tidak terlalu tinggi, gemuk, botak, dan berkumis. Sir Arthur Conan Doyle menciptakan Sherlock Holmes dengan citra gentleman Inggris, tinggi, anggun, ganteng, cangklong dan gerak gerik yang sempurna.

Dua duanya punya asisten setia, Kapten Hastings untuk Poirot, dan dr. Watson untuk Sherlock. Sir Arthur tipe pengarang yang langsung tancap gas fokus pada kasus. Agatha bawaannya nyantai. Ia bisa ngalor ngidul cerita ini cerita itu sebelum memasuki kasus. Hollywood jauh menjagokan Sherlock untuk dijadikan hero dengan menambahkan efek cepat, dramatis, dan heroik. Tokoh tokoh Agatha lebih banyak bermain di film film Eropa yang lebih lamban.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Banyak Dibaca